Sabtu, 22 Agustus 2009

bende wasiat

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil
membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku
kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata
harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya
suka memerintah dan berbuat semena-mena pada
binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya
tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau!"
kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajara
n! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka
berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana
cara membuat si harimau kapok.
Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si
kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si
kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah
menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan
juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa
saja yang berani menggangguku, termasuk harimau,
karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata
kancil pada kelinci. "Tugas penting
apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti
mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu
Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci.
"Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku
percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau
lagi."
Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang
bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan
yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci,
harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa? Kancil mau
menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau.
Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke
tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata
Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai,
harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku
dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.
"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan
bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting
apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk
bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya.
"Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa
sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam
gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan
sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali,
tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi
penasaran. "Aku boleh tidak memukul
nya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu
dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah
agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apaapa
ya?", kata si kancil.
Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang
terjadi. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung!..nguuuung!..nguuuung!..
sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah
itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil
berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat
masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!"
teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang
ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu
kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.
"Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil.
"Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa
mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
HIKMAH :
Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak
boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar