Sabtu, 09 Januari 2010

Cerpen Sang Kancil dan Gurita Raksasa

Sore hari ketika Sang Kancil sedang asyik masyuk berjalan-jalan seorang diri di tepi Pantai Samas yang curam. Hari ini dia merasa perlu mempelajari jenis-jenis rumput yang tumbuh di tepi pantai. Mungkin suatu saat rerumputan pantai bisa dijadikan bahan makanan kala persediaan makanan di hutan menipis.

Tatkala Sang Kancil tengah mengamati rerumputan berwarna merah, mendadak terdengar suara keras menggelegar memanggil-manggil namanya. “Hai, Sang Kancil, aku ingin nasehat darimu.........!!!”.



Gurita dan anaknya (gambar diolah dari designlaunches.com)


Kancil kaget mendengar suara keras dari arah laut. Dilongokkan kepalanya mencari-cari arah suara, dilihatnya seekor gurita raksasa bertepuk tangan agak jauh dari pantai. Delapan lengan Gurita itu bergantian menunjuk-nunjuk serentetan batu karang yang berjajar menjorok ke arah laut dan menyuruh Kancil berjalan menuju dirinya.

Dengan hati-hati Kancil melangkahkan kaki menuruni tebing pantai dan melompat ke batu karang tersebut. Tak berapa lama kemudian langkah Sang Kancil berhenti di ujung deretan batu karang, tepat di hadapan Gurita raksasa.


“Aku punya masalah dengan dua orang anakku’ kata Gurita terbata-bata. Sebelum mengungkapkan masalahnya Gurita mengakui bahwa dirinya sangat terkesan dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan Sang Kancil di hutan. Kata Gurita, kebijaksanaan Kancil tatkala menghadapi para pemburu telah tersohor hingga ke dunia bawah laut, sehingga dirinya rela berminggu-minggu nongkrong di tepi pantai untuk menanti kehadiran Sang Kancil -- yang menurut kabar burung camar -- kadang-kadang terlihat sedang meneliti tumbuh-tumbuhan di tepi pantai.

Sesaat kemudian Gurita bercerita tentang dua orang anaknya yang selalu bertengkar untuk memperebutkan makanan yang diberikan induknya. Setiapkali dia membawa pulang ikan, udang atau kepiting, dua anaknya berebut untuk memakannya. Semakin lezat makanan, misalnya si induk mendapat mangsa ikan hiu, maka semakin hebatlah pertengkaran anaknya.

“Mengapa tidak kau bagi dua saja?” tanya Kancil

“Itulah masalahnya Mas Kancil" ujar Gurita


"Kalau makanan aku bagi dua, mereka berebut memilih bagian yang dianggap lebih besar. Padahal ukurannya sebenarnya sama, hanya terlihat lebih besar karena ada tulangnya. Jika si adik disuruh memilih terlebih dahulu, maka si kakak akan memilih bagian yang sama. Jadilah mereka bertengkar. Jika si kakak yang memilih terlebih dahulu, maka si adik ikut-ikutan ingin porsi yang telah dipilih akaknya. Pusinglah aku dibuatnya” lanjutnya

“Ah, namanya anak-anak, mereka hanya perlu diajari sedikit tentang keadilan” kata Kancil

“Wah, gimana dung caranya?”

“Gampang banget. Ntar kalau kamu pulang dari mencari makan, taruh semuanya di hadapan anak-anakmu. Kemudian suruh salah satu membagi makanan!” ujar Sang Kancil

“Waduh, apa nggak malah lebih repot lagi nantinya. Mereka pasti berebut ingin jadi yang membagi makanan agar dapat bagian yang lebih besar!”

“Yang membagi makanan tidak boleh memilih terlebih dahulu. Jika si kakak membagi, maka adiknya yang boleh memilih makanan hasil pembagian. Begitu juga sebaliknya. Dengan cara demikian si pembagi akan berusaha keras agar dapat membagi makanan dengan seadil-adilnya” urai Kancil sambil tersenyum.

“Wah ide yang brilian sekali Sang Kancil. Besok aku akan suruh anakku bergantian membagi jatah makanan. Kuharapkan dengan cara itu mereka tak akan bertengkar lagi’ kata Gurita sambil bertepuk tangan kegirangan dengan kedelapan lengannya.

Sang Kancil tersenyum melihat Gurita kegirangan. Didalam hatinya dia tahu persis bahwa ada banyak cara untuk memaksa makhluk seperti anak gurita untuk bersikap adil. Ada banyak cara yang bisa dipelajari dengan mudah untuk membuat mereka bersikap baik (undil- 2010)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar