Rabu, 07 Desember 2011

Demang Nuru dan Para Ksatria Jepara


Demang Nara, Demang Neri danDemang Nuru duduk bertiga di depan sebuah meja kotak dari kayu cendana ditengah pendopo kadipaten. Para demang yang lain juga duduk di beberapa mejalain yang ditata apik di pendopo. Wangi-wangian berupa dupa yang dibakarpojok-pojok ruangan menghiasi udara pendopo. Hari ini di ruangan itu akandilakukan pertemuan para pejabat  kadipaten dengan perwakilan Ksatria Jeparauntuk merundingkan berbagai hal. Sang Adipati akan memimpin sendiri delegasi kadipatenpada pertemuan kali ini.


Hal-hal yang penting untukdibicarakan adalah soal perdagangan, disamping soal-soal keamanan. Kadipatenmemiliki hasil bumi seperti beras, jagung dan kelapa untuk dipasok ke Jepara.Sementara Jepara selaku salah satu kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawamemiliki kain sutera, minyak ikan, ter, kertas, kapur barus, minyak wangi,barang-barang pecah belah dari porselin & kristal, peralatan rumah tanggadari logam dan obat-obatan yang dibutuhkan rakyat kadipaten.

Demang Nara yang tiba duluandi tempat itu memesan minuman buat dirinya dan dua temannya. Awalnya diamemesan teh tawar untuk dirinya, tapi kemudian dia tertarik dengan tawaranpelayan untuk mencoba minuman air kelapa muda ditambah sirup strawberry yangdidatangkan khusus dari Venesia. Sirup yang dibawa oleh pedagang-pedagang dariGujarat itu telah tersohor kenikmatannya. Namun karena dia sudah memesan satu gelasteh tawar, maka Demang Nara hanya memesan dua gelas kelapa muda strawberry.

Yang menyusul datang adalahDemang Neri, si juragan beras muda belia dari wilayah timur kadipaten. DemangNeri mengendalikan lumbung-lumbung padi yang berada di wilayah kekuasaannya.Makanya dia adalah aktor penting dalam perundingan ini mengingat Jeparabukanlah daerah yang memiliki petani. Hampir seluruh penduduk Jepara adalahkaum pedagang, para tukang, tabib, ahli kimia, pembuat senapan & meriam,  pemintal kain dan profesi lain yang takterkait dengan produksi beras.

Melihat di depannya telahtersuguh minuman kelapa muda strawberry, Demang Neri tertarik untukmencicipinya seperti yang dilakukan Demang Nara. Dan dia tidak kecewa dengankelezatan paduan rasa kelapa muda strawberry.

Demang Nuru baru muncul satujam kemudian. Agaknya dia masih sibuk membuat sapu lidi di halaman belakangrumahnya sehingga terlambat tiba di kadipaten. Demang Nuru memimpin wilayahselatan kadipaten yang merupakan pusat perkebunan kelapa. Setiap tahun ratusanribu kelapa dihasilkan oleh wilayah itu, namun tidak semuanya dapat terjual.Belakangan muncul permintaan baru yaitu kelapa yang telah dikeringkan untukdipasok ke Jepara. Kelapa kering itu selanjutnya akan diangkut ke Makasar yangmerupakan pusat perdagangan kopra dunia di masa itu. Sebuah peluang perdaganganyang sangat menguntungkan bagi Demang Nuru.

Hasil sampingan dari perkebunankelapa adalah sapu lidi yang dibuat dari daun-daun kelapa. Adalah hobby DemangNuru untuk membuat sendiri sapu lidi menemani para pegawainya, yang tak lainadalah anak istrinya. Sayang sapu lidi bukanlah barang yang gampang dijualkarena relatif awet. Orang bisa beli satu untuk dipakai satu dua-tahun,sehingga penjualannya juga kurang bagus.

Melihat dua temannya minumkelapa muda berwarna merah muda -- warna sirup strawberry Venesia, terbitlahair liur Demang Nuru karena kepengin merasakan juga. Namun alangkah kecewanyadia saat pelayan datang malahan membawakan teh tawar bagi dirinya. DilihatnyaDemang Nara senyum-senyum sambil pasang muka tidak bersalah, sementara DemangNeri pura-pura sibuk menulis-nulis dengan pensil arang di atas kertas yangdibawanya. Setelah diamat-amati ternyata Demang Neri cuman menggambar duagunung dan matahari terbit diantaranya. “Sungguh Demang yang kekanak-kanakan”pikir Demang Nuru.

Karena untuk pesan minumanlagi dia malu pada Sang Adipati, maka terpaksalah Demang Nuru meminum teh tawaryang disuguhkan. Rasanya beda banget sih dibanding teh yang dirumahnya. Teh initeh kelas satu yang telah dibumbui dengan bunga melati dan diracik oleh emputeh nomor satu di kadipaten. Sementara teh di rumahnya adalah daun teh keringtanpa bumbu yang rasanya biasa-biasa saja. Jadi agak sedikit terhiburlah hatinya.Dicoba dinikmatinya setiap tetesnya. “Hmmm benar-benar nikmat tidak seperti tehyang di rumah.  Lagipula kalau aku minummanis-manis malahan bisa serak” pikir Demang Nuru.

^_^

Sayup-sayup Demang Naramendengar suara derap puluhan ekor kuda mendekati halaman pendopo kadipaten. Sejuruskemudian dilihatnya ada kurang lebih dua puluh ksatria berkuda dengan pakaianwarna putih, sorban warna putih dan bersepatu hitam memasuki halaman kadipaten.Merekalah para Ksatria Jepara yang ditunggu-tunggu.

Ksatria di barisan terdepanmembawa panji-panji gula kelapa – merah putih lambang Kesultanan Demak Bintoro.Jepara adalah salah satu wilayah Kesultanan Demak Bintoro – salah satu kerajaanmaritim terbesar di nusantara sepanjang masa. Demak Bintoro mengandalkanpendapatannya bukan dari pertanian, tetapi dari perdagangan internasional dikota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, termasuk pelabuhanJepara.

Berkat perdagangan itulahDemak Bintoro muncul sebagai kerajaan maritim yang kaya raya dan mampumembangun armada kapal-kapal perang yang disegani di nusantara. Disamping pasukandan senjata, faktor ketersediaan uang memegang peranan penting dalam perang dimasa itu. Bila tidak memiliki uang yang cukup maka pasukan yang sedangbertempur akan kesulitan perbekalan dan persediaan senjata, apalagi bila merekaterlibat perang dalam jangka waktu lama.

Demang Nara berdecak kagummelihat kuda-kuda arab yang ditunggangi Ksatria Jepara. Kuda-kuda itu berukurandua kali lebih besar dari kuda-kuda lokal yang dibawa para Demang. KekagumanDemang Nara semakin bertambah tatkala melihat di setiap bahu para ksatria itutersandang senapan, sama seperti senapan yang dipamerkan oleh orang-orangPortugis di Pasuruan. Sementara para Demang seperti dirinya masih mengandalkanpedang dan tombak sebagai senjata.


Lain halnya bagi Demang Neriyang sewaktu remaja  pernah menjadi awakkapal sebuah kapal dagang Gujarat. Kehebatan Ksatria Jepara bukanlah hal yangbaru.  Dia tahu persis Ksatria Jeparabukan saja memiliki prajurit, tetapi juga sekelompok tabib yang siap mengobatiprajurit yang terluka, ahli pergudangan yang mengatur logistik pasukan, ahlinavigasi, tukang gambar peta, ahli mesiu, dan ahli meriam.

Ksatria Jepara juga mampubergerak cepat menuju daerah-daerah musuh karena memiliki armada jung, yaitu kapal-kapalbesar khas pedagang Jawa yang siap membawa mereka kemana saja. Berbeda denganpasukan kadipaten yang mengandalkan angkutan darat seperti kuda dan pedati,sehingga sulit membawa perbekalan dan butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapaikota-kota yang jauh.

Pernah di suatu malam kapaldagang Gujarat yang ditumpangi Demang Neri berpapasan dengan kapal-kapal perangKsatria Jepara di lepas pantai ujung timur Pulau Jawa. Ada kurang lebih duapuluh jung Jepara yang berlayar mendekati benteng Portugis yang samar-samarterlihat berdiri megah di tepi pantai dengan menara-menara yang menjulangtinggi.

Demang Neri terperanjattatkala terdengar bunyi ledakan keras bersahut-sahutan. Kemudian di gelapnyamalam  terlihat bola-bola api meluncurdari kapal-kapal perang Jepara melesat ke arah Benteng Portugis. Bola-bola apitersebut meledak di tembok-tembok batu Benteng Portugis dan menimbulkankebakaran hebat. Awalnya masih terlihat bola-bola api balasan meluncur dariBenteng Portugis menuju jung-jung Jepara. Tapi bola-bola api itu semakin lamasemakin berkurang seiring runtuhnya menara-menara di Benteng Portugis. Rupanyameriam-meriam Armada Jepara mampu membungkam perlawanan sengit bentengtersebut. Hanya dalam waktu kurang dari satu malam benteng yang berdiri megahtersebut telah porak poranda dihajar meriam-meriam Ksatria Jepara.      

^_^

Sang Adipati mencegah para demangbangkit dari duduknya untuk berdiri menyambut hadirnya para tamu pada saat padasaat delegasi Ksatria Jepara memasuki pendopo Kadipaten. Para ksatria itudikenal kurang suka penghormatan seperti itu dari tuan rumah.  Sang Adipati agaknya telah mengenal merekadengan sangat baik. Sesaat kemudian Adipati memperkenalkan tamu-tamunya.

Pemimpin para Ksatria Jeparaadalah seorang pria bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan berhidung mancungbernama Muhammad Yunus, lebih dikenal dengan nama Pati Unus. Dia adalah seoranglaksamana yang berpengalaman luas dan juga seorang ahli pemerintahan yangcakap.

Disamping Pati Unus berdiriseorang anak muda berusia sekitar dua belas tahun, diperkenalkan sebagai muridSunan Kudus yang paling cerdas. Dia akan membantu merumuskan perundingan inidalam bentuk perjanjian tertulis. Dia adalah seorang Ksatria muda dari Jipang.Kemudian diperkenalkan juga dua orang ahli pertanian lulusan Madrasah Sunan Bonang di Tuban. Mereka yang akan menilai kualitas beras, kelapa danhasil pertanian lain di kadipaten. Bila harga dan kualitas sesuai denganpermintaan Jepara maka akan dilakukan pembicaraan lanjutan untuk merumuskankerja sama perdagangan. Mereka juga akan merundingkan soal-soal keamanan diwilayah perbatasan.

^_^

Selama berlangsungnyaperundingan, Demang Nuru telah melupakan minuman kelapa muda strawberry yangdiimpikannya. Dia telah punya pikiran lain yang menurut dia jauh lebih penting.Sapu lidi! Yah dia mampu memproduksi ribuan sapu lidi tiap tahun tapijarang-jarang yang beli. Akhirnya dia terpaksa menurunkan produksinya karena stokseringkali hanya menumpuk di gudang.

Kini didepannya hadir para KsatriaJepara yang memiliki jung-jung berukuran besar. Dia juga mendengar ada ratusankapal dagang yang sering singgah di pelabuhan Jepara. Untuk bersih-bersih kapalpakai apalagi kalau bukan pakai sapu?. Demang Nuru berpikir barangkali sajakapal-kapal itu tertarik membeli sapu lidi buatannya, khan lumayan!. Dia bisamemuaskan hobbynya membuat sapu lidi dan memaksimalkan potensi perkebunankelapa di wilayah timur kadipaten dalam memproduksi sapu lidi (undil- 2011)

Gambar diambil dari: wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar