Minggu, 05 Desember 2010

Kisah Rapunzel: Si Putri Tangguh Grimm Bersaudara

Barisan tomat merah merona,
bunga-bunga brokoli menarik hati,
rumpun daun sawi hijau bersemi,
semua ada di kebun kita.
Mengapa Dinda inginkan
selada rapunzel kebun tetangga?

^_^

Suatu ketika sepasang suami istri yang masih muda belia duduk di jendela loteng rumah yang baru beberapa hari dibelinya. Mereka baru pindah ke Kotaraja untuk sekolah di universitas terbaik di negerinya. Saat si istri yang berusia tujuh belas tahun melihat dari jendela, baru disadari bahwa di seberang rumah terdapat kebun sayuran sejenis selada unik yang biasa disebut rapunzel.

Karena istrinya yang tengah hamil terus mendesak menginginkan sayuran tersebut, maka Sang Suami yang setahun lebih tua dari istrinya itu mencoba mencari tahu pemilik kebun di seberang rumah. Hampir satu minggu dia mencari-cari informasi, tetapi tak seorang-pun tahu pemiliknya. Maka dengan terpaksa Sang Suami memanjat pagar dan memetik seikat rapunzel untuk istrinya.

Pagi itu Sang Suami kembali memanjat pagar dan bermaksud memetik rapunzel, demi istri yang dinikahi tiga bulan silam menjelang mereka lulus sekolah menengah.

Saat itulah si pemilik kebun, yaitu seorang nenek yang masih terlihat cantik dengan  tubuh tinggi semampai memergokinya. Nenek bernama Gothel itu marah-marah sambil menodongkan pistolnya ke arah Sang Suami yang ketakutan. Ada delapan pengawal bertampang seram berkacak pinggang di belakang nenek Gothel.

Nenek berpakaian sutera merah berhias manik-manik permata yang berkilauan itu dengan tegas menolak tatkala Sang Suami menawarkan semua uang yang akan dipergunakan masuk universitas sebagai pengganti rapunzel yang telah diambilnya. Dia tidak butuh uang. Bahkan Si Suami diinterogasi dengan terperinci oleh Si Nenek Gothel, mulai dari usia, golongan darah, penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh dirinya dan istrinya.

Nenek Gothel juga banyak bertanya tentang riwayat kesehatan istrinya yang hamil anak pertama. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat bingung Si Suami. Apa hubungan dengan rapunzel yang dicurinya?.

Setelah interogasi selesai, tiba-tiba Nenek Gothel menuntut Sang Suami untuk memberikan bayi yang dikandung istrinya saat lahir tiga bulan nanti, sebagai pengganti rapunzel yang dicurinya. Saking takutnya pada todongan pistol, dan para pengawal bertampang bengis, Sang Suami mengiyakan permintaan Sang Nenek. SI Nenek tertawa lebar memamerkan deretan giginya yang rapi bak deretan mutiara kala mendengar jawaban si Suami.

Maka tatkala anak yang dikandung istrinya lahir, Sang suami tak mampu  melawan saat Nenek  Gothel tiba-tiba datang dan merenggutnya, lalu membawanya kabur bersama para pengawalnya. Tatkala Si Suami lapor polisi, ternyata kebun selada rapunzel  di seberang rumahnya telah dijual dan pemiliknya raib entah kemana.

Jadilah pasangan keluarga muda itu bersedih hati karena kehilangan anaknya. Menyesallah mereka akan dampak yang diterima akibat mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

^_^


Duhai sepi yang menemani,
dengarlah jeritan dalam hati,
merindukan teman berbagi,
Rapunzel disini mengasihani diri
menatap dunia luar dengan iri.
Apalah dayaku bebaskan diri,
hanya berharap pertolongan,
yang tak kunjung menghampiri

Jauh di negeri seberang si anak yang diculik ternyata dibawa ke sebuah kota terpencil di pegunungan dan dipelihara oleh Nenek itu hingga dewasa. Sayangnya Si Nenek tidak memeliharanya di rumah seperti halnya anak lain, tetapi dipelihara di laboratorium khusus di samping rumahnya yang terletak di luar kota.

Nenek Gothel menyuntikkan sel-sel tubuhnya ke dalam tubuh si anak dari semenjak bayi dengan harapan tubuh si anak akan menyesuaikan diri dengan tubuhnya.

Dia juga beberapa kali mencangkokkan jaringan tubuhnya ke tubuh si bayi dengan harapan tubuh si bayi akan mengadaptasi sifat-sifat jaringan tubuh si nenek. Dia juga mengambil sedikit jaringan tubuh si anak untuk dicangkokkan di tubuhnya dengan harapan sistem pertahanan tubuhnya akan terbiasa dengan jaringan tubuh si anak dan membiarkan jaringan tubuh si bayi hidup di dalam tubuhnya.

Si Nenek juga telah mempelajari dengan seksama tubuh si anak dan mendapati sifat-sifat fisik tubuhnya punya banyak kemiripan dengan tubuh si anak.

Diam-diam dia mempersiapkan si anak sebagai cadangan organ tubuh bagi dirinya bila sewaktu-waktu dia ingin meremajakan organ tubuhnya yang sakit. Dia berusaha keras membuat terjadinya penyesuaian tubuhnya dengan tubuh si anak agar kelak bila organ tubuh si anak dicangkokkan ke dalam tubuhnya, tidak terjadi respon negatif dari tubuhnya karena menganggap organ tubuh si anak sebagai benda asing yang harus dihancurkan. Bila itu terjadi, gagallah proses cangkok organ dalam tubuhnya.

^_^

Bukan wajahmu yang mempesona,
bukan pula tubuhmu yang menawan hati,
tapi tingkah lakumu yang terjaga,
tutur katamu yang penuh simpati,
tumbuhkan rasa sayang dalam hati


Tak terasa enam belas tahun berlalu. Si bayi yang diberi nama Rapunzel telah menjelma menjadi wanita dewasa berambut panjang keemasan, rambutnya begitu panjang karena tak sekalipun penah dipotong sedari bayi. 


Wajah Rapunzel biasa-biasa saja, namun jangan tanya kepribadiannya. Pribadi Rapunzel amat sangat mempesona. Pembawaannya riang dan penuh perhatian. Lincah dan cekatan menyelesaikan pekerjaan. Tutur katanya penuh simpati. Gerak gaya budayanya dijaga. Tidak pernah mengeluh. Ringan tangan membantu pekerjaan Si Nenek, serta perhatian yang senantiasa tercurah pada Si Nenek telah membuat Gothel yang jahat-pun jatuh hati.

Sayangnya gadis itu seringkali bersedih karena selalu dikurung di laboratorium pribadi milik nenek itu. Tak ada yang tahu ada seorang gadis menawan hati tinggal di dalam laboratorium. Tak seorangpun dibiarkan masuk laboratorium yang dilengkapi password yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari telapak tangan nenek.

Jika Nenek Gothel datang biasanya dia berteriak memanggil Rapunzel agar mendekat ke pintu karena pintu hanya bisa dibuka bila telapak tangan Nenek menempel di bagian luar pintu dan rambut panjang Rapunzel menempel pada sensor di bagian dalam pintu. Pengamanan aneh seperti itu sengaja dirancang Si Nenek agar tak seorangpun bisa masuk ke laboratorium meskipun suatu ketika ada orang yang berhasil mencopy dan membuat tiruan sidik jari si Nenek.

Nenek Gothel biasanya datang ke tempat Rapunzel untuk mengantarkan makanan atau pada saat tubuhnya yang terasa letih ingin dipijat oleh Rapunzel. Satu dua kali dia meminta Rapunzel membantunya mendandani wajahnya yang cantik. 


Kadangkala dia datang untuk menumpahkan caci makinya pada orang lain yang telah membuatnya marah, biasanya Rapunzel mendengarkan dengan penuh perhatian sambil menghibur Si Nenek. Keelokan pribadi Rapunzel tersebut-lah yang telah membuat Si Nenek berulangkali menunda keinginannya untuk mengambil organ tubuh Rapunzel.

^_^

Bukan Pangeran bukan Ksatria
yang dapat menolong Rapunzel
Hanya dengan kepercayaan diri
Hanya dengan keberanian
Kebebasan datang menjelang

 
Namun akhirnya Nenek Gothel berhasil menekan rasa sayangnya dan merasa bahwa dirinya sudah saatnya melakukan transfer organ pertama Rapunzel kepada dirinya. Walaupun demikian, keelokan budi Rapunzel telah membuat Nenek Gothel merasa sayang untuk membunuh Rapunzel. Karenanya dia tidak bermaksud mengambil organ tubuh yang sekiranya akan berakibat fatal pada Rapunzel.

Untuk saat ini Nenek Gothel ingin mengambil ginjal sebelah kiri Rapunzel. Kebetulan ginjal nenek sebelah kiri pernah terkena infeksi menahun hingga kurang berfungsi dengan baik lagi. Sementara kedua ginjal Rapunzel berfungsi sangat baik.

Untuk keperluan pencangkokkan itu dia menghubungi temannya, seorang dokter bedah di kota itu untuk mensurvei dirinya dan Rapunzel. Malangnya Si Nenek lupa tidak mengatakan bahwa pemeriksaan ini bersifat rahasia. Maka si dokter bedah yang tengah pergi keluar kota, mengutus seorang murid paling cerdas yang sangat dipercayainya untuk datang ke rumah nenek. Karena kebetulan hujan lebat dan angin bertiup kencang, si laki-laki muda berusia tujuh belas tahun yang bernama Pangeran tersebut memakai jubah dan tutup kepala pelindung hujan.

Si Nenek yang tidak menyadari bahwa yang datang bukan sahabatnya mempersilahkan masuk ke laboratorium. Kebetulan potongan tubuh Pangeran yang tinggi ceking dengan wajah lonjong, hidung bulat kecil, bibir tebal kehitaman dan berkulit gelap, sangat mirip dengan sobat dokternya.

Dengan terheran-heran Pangeran melihat bagaimana Nenek Gothel membuka pintu laboratorium dengan menempelkan telapak tangannya. Dia jauh lebih heran lagi melihat seorang perempuan muda terkurung di dalam laboratorium. Siapakah gerangan perempuan yang akan diperiksanya ini?.

Singkat cerita Nenek Gothel membiarkan tamunya memeriksa Rapunzel dan kemudian tatkala si tamu hendak memeriksa dirinya, tahulah dia bahwa tamu tersebut bukan sahabatnya. Si Nenek terpaksa pura-pura tidak terkejut dengan kejadian itu dan membiarkan lelaki tujuh belas tahun itu memeriksa dirinya. Nenek Gothel merasa perlu menghargai laki-laki ini, karena dia tidak ingin menyakiti hati sahabatnya yang telah mengutusnya.

Tentu saja hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuh kedua orang itu baik-baik saja. Hasil pemeriksaan sampel darah, urin dan sebagainya yang akan diberitahukan beberapa hari kemudian nampaknya hasilnya juga bagus.

Si Pangeran hatinya bertanya-tanya ingin tahu siapa perempuan sederhana tetapi memiliki tutur kata dan tingkah laku sangat mempesona yang baru saja selesai diperiksanya. Selaku seorang laki-laki dewasa yang terlatih berpikir cepat, Pangeran memanfaatkan otaknya untuk mencari cara melakukan penyelidikan lanjutan. Diam-diam sewaktu memeriksa Si Nenek dia membuat scan telapak tangan si nenek dengan dalih pemeriksaan. Hasil scan tersebut akan dibuat tiruan sidik jari di bengkel milik universitas.

Maka tatkala ditugaskan gurunya untuk menyerahkan hasil uji sampel darah, Pangeran sengaja mengendap-endap menuju laboratorium untuk mengetahui lebih jauh tentang diri Rapunzel. Diserunya Rapunzel untuk menempelkan rambutnya agar pintu dapat terbuka. Kagetnya baru saja pintu berhasil dibuka, yang ada di dalam laboratorium adalah Si Nenek yang telah curiga Si Pangeran akan datang kembali menemui Rapunzel.

Wajah Nenek Gothel yang putih bersih semburat kemerahan -- menggambarkan amarah yang meluap-luap kala tangannya melemparkan rambut Rapunzel yang telah dipotongnya ke wajah Pangeran sambil meneriakkan caci maki. Rupanya si nenek bersembunyi di dalam laboratorium menggantikan Rapunzel yang telah diikat di menara air di samping laboratorium. Kemudian Si Nenek tanpa basa-basi menembak kepala Pangeran hingga tubuh kurus kering itu terhuyung-huyung terdorong keluar dari laboratorium.

Malangnya Nenek Gothel lupa bahwa bila terdengar suara ledakan maka pintu laboratorium akan otomatis menutup untuk mengamankan isinya. Jadilah Si Nenek terjebak di dalam laboratorium karena rambut Rapunzel yang dibutuhkan untuk membuka pintu telah dilemparkannya keluar laboratorium.


Dia menangis melolong-lolong sambil menggedor-gedor pintu laboratorium. Hatinya merana sedih sekali. Bukan karena gagal mendapatkan ginjal Rapunzel, tetapi lebih karena Nenek Gothel takut sekali kehilangan seseorang yang selama ini sangat mengagumi dan memperhatikan dirinya. Diam-diam lubuk hati terdalam Nenek Gothel merindukan kedekatan dengan Rapunzel. Rasa sayang telah mekar di hatinya. Rasanya dia tidak sanggup membayangkan hidup terpisah dari Rapunzel.


Sebenarnya alasan dia mengurung Rapunzel di dalam laboratorium telah berubah sejak beberapa tahun lalu. Bukan lagi karena tak ingin kehilangan calon donor organ tubuh, tetapi karena takut kehilangan seorang teman dengan pribadi sangat mempesona.

Sementara Rapunzel yang diikat di dalam menara air berusaha keras membebaskan diri tatkala mendengar suara ledakan pistol. Setelah berusaha dengan keras akhirnya dia berhasil mengigit putus tali yang mengikatnya. Untunglah Si Nenek tidak tega untuk mengikat Rapunzel dengan rantai, sehingga dia hanya mengikatnya dengan tali rami.


Diam-diam Rapunzel telah terbangkitkan kesadaran untuk bebas sebagaimana manusia dewasa lainnya setelah mendengar cerita-cerita menarik dari Sang Pangeran saat memeriksanya beberapa hari yang lalu. Rapunzel sangat tertarik dengan dunia luar penuh warna yang diceritakan Si Pangeran yang cerdas itu. Berbekal tekad itulah, maka dengan penuh semangat dikaitkan rambutnya pada jendela menara itu, lalu dirinya turun ke bawah dengan berpegangan pada rambutnya .

Tatkala dilihatnya Pangeran tergeletak berlumuran darah, cepat-cepat dibalutnya luka Pangeran dengan sobekan bajunya dan diikatnya dengan potongan rambutnya. Kemudian Rapunzel menggendong Pangeran untuk mencari pertolongan. Untunglah kesehatan tubuh Rapunzel sangat diperhatikan oleh Nenek Gothel, sehingga tubuh Rapunzel cukup kuat untuk berlari sambil memondong tubuh Pangeran yang kebetulan bertubuh kurus kering itu.

Rapunzel sadar bahwa dirinya harus berlari sekencang mungkin agar Pangeran dapat secepatnya mendapatkan pertolongan. Hampir dua puluh kilometer Rapunzel berlari naik turun bukit berbatu sambil menggendong Pangeran di punggungnya sampai sandal yang dikenakannya putus dan dirinya berlari dengan kaki telanjang -- saat Rapunzel berhasil menemui tetangga terdekatnya. Tetangga itu dengan senang hati mengantarkan mereka berdua ke rumah sakit.

^_^

Hanya setelah percaya diri dibangkitkan
Rapunzel mampu atasi kesulitan
Pangeran hanya menunjukkan peluang
Selebihnya Rapunzel yang berjuang


Rapunzel dengan sabar menemani Sang Pangeran yang tregeletak pingsan di rumah sakit. Dia juga menyumbangkan darahnya tatkala dokter mengatakan Pangeran butuh transfusi darah. Dalam keadaan kritis tersebut, kebetulan ada sepasang dokter spesialis bedah kepala kenamaan dari negeri jauh sedang berlibur ke kota kecil itu.

Sepasang dokter itu dengan senang hati membantu mengeluarkan peluru dari kepala Pangeran. Sepasang dokter itu juga menjahit luka-luka menganga di sekujur kaki Rapunzel yang tidak dirasakannya selama berlari sambil menggendong Pangeran yang terluka.

Setelah siuman Si Pangeran menceritakan tentang penyelidikannya, kemudian Rapunzel juga menceritakan kisah hidupnya yang dihabiskan di dalam laboratorium. Suami istri dokter bedah itu teringat peristiwa hilangnya anak mereka enam belas tahun lalu. Maka disadarinya bahwa gadis dengan tingkah laku dan tutur kata menarik hati di hadapan mereka adalah anak yang selama ini hilang. Akhirnya mereka bisa menemukan anaknya setelah si anak dewasa.

Diam-diam Si Ibu sangat bangga pada Rapunzel, walaupun tidak secantik dirinya tapi kepribadian anak itu nampak jauh lebih tangguh dan jauh lebih mempesona dibanding kepribadian dirinya waktu seusia anak itu.

Kemudian suami istri tersebut menceritakan kisah kehilangan anak yang membuat mereka bertekad menjadi ahli kedokteran sehingga bisa menguak rahasia dibalik pertanyaan-pertanyaan si Nenek sebelum mencuri anak mereka. Setiap tahun mereka berdua sengaja datang ke kota-kota jauh dimana dicurigai terjadi transfer organ secara gelap untuk mencegahnya, sembari mencari kabar anak mereka hidup atau mati, karena dugaan suami istri ini si anak diculik oleh pencuri organ tubuh manusia.

Mereka bertiga bertangis-tangisan mensyukuri takdir Tuhan yang mempertemukan mereka saat ini. Singkat cerita Nenek Gothel ditangkap dan dipenjarakan karena kejahatannya, demikian juga dokter sahabatnya yang ternyata banyak melakukan praktek tranfer organ secara gelap di kota kecil itu.

Sementara Rapunzel dan Pangeran yang telah saling jatuh cinta memutuskan untuk menikah, mengikuti jejak kedua orang tua Rapunzel yang menikah sesaat sebelum masuk Universitas. Beberapa tahun kemudian nampak Pangeran yang menggendong anak sedang berjalan beriringan dengan Rapunzel yang mendorong kereta bayi sambil bercanda di taman universitas di Kotaraja tempat Sang Pangeran melanjutkan sekolah sambil bekerja.


Sementara Rapunzel memutuskan berkarir sebagai penulis cerita anak-anak di sela-sela kesibukannya mengasuh kedua anaknya. Masa depan penuh harapan nampaknya telah menanti pasangan remaja belasan tahun tersebut (Undil -2010).

Cerita terinspirasi kisah Rapunzel karya Grimm Bersaudara
Vic Parker, 2009, 100 Cerita Klasik, BIP Gramedia, Jakarta


tags: cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita dunia, rapunzel si rambut emas, rapunzel yang gigih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar