Tampilkan postingan dengan label national condom week. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label national condom week. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2009

Trilogi Kampung Pengundang Ular .: Tragedi Negeri Pemuja Kebebasan

Begitu besarnya penentangan dari penduduk -- tidak membuat Kepala Kampung mundur dari tekadnya untuk memberi kebebasan seluas-luasnya kepada bangsa ular untuk berkeliaran di dalam kampung. Hal itu dianggapnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kebebasan para ular. Dari situlah semuanya berawal...



Trilogi Kampung Pengundang Ular



Trilogi Bagian Pertama .: Kampung Pengundang Ular :. Tahun Kegelapan

Walaupun mendapat tantangan dari penduduk, Pak Kepala Kampung memutuskan untuk membiarkan ular berkeliaran di dalam kampung seperti tuntutan para pengundang ular. Menurut dia, ular punya hak untuk hidup di dalam kampung dan tak boleh diusik oleh siapapun.
Akibat kekalahan kelompok penentang dalam pemungutan suara, para pengundang ular seperti mendapat angin segar. Mereka bisa bebas berpesta pora dengan para ular tanpa gangguan dari penduduk kampung.

Diantara banyak jenis ular baru -- Ular pelangi adalah ular yang paling populer -- walaupun belakangan terbukti bahwa ular tersebut menyebarkan penyakit aneh yang mengerikan. Bagian-bagian tubuh penderita penyakit akan jatuh berceceran akibat keganasan virus ular pelangi. Penyakit tersebut ditularkan antar manusia melalui jarum suntik yang dipakai berulang kali.

Gara-gara ular itulah biaya pengobatan di tabib menjadi mahal -- karena raja memutuskan jarum suntik hanya boleh dipakai satu kali -- sebagai antisipasi penularan penyakit yang dibawa ular pelangi. Sedangkan jarum suntik kerajaan di masa itu mahal sekali karena terbuat dari emas. Mahalnya biaya berobat kemudian memicu ketidakpuasan di seluruh negeri. Usaha menggalang kekuatan mulai terjadi. . Cerita selengkapnya...

(gambar dari www.boston.com)

tags: cerpen, cerita pendek, cerita pendek asyik banget, cerita sarat makna, contoh cerpen, contoh cerita pendek, liberalisme, national condom week, cerita pendek tentang demokrasi tanpa batas, sosialisasi demokrasi, kebenaran mutlak, relativitas kebenaran, cerita pendek tentang pluralisme, cerita pendek tentang penyakit kutukan

Sabtu, 03 Juni 2006

Kampung Pengundang Ular (3)


KAMPUNG PARA PENGUNDANG ULAR (3)
Sawan Ular Pelangi


Aku tidak percaya gravitasi bumi
Aku terjun dari atap rumah
Aku hancur bersama kebodohanku


Di balik kampung yang kembali tenang dan aman setelah kepergian para ular, terdapat sekelompok kecil penduduk yang gelisah. Tak lama setelah ular-ular diusir keluar kampung, para pengundang ular merasa bosan.
Mereka telah dirasuki kesenangan terhadap ular dan hari-hari mereka terasa hampa tanpa lilitan ular. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mengundang ular ke dalam kampung sama saja bunuh diri. Apalagi bila ular-ular tersebut sampai menggigit mati penduduk kampung---bisa-bisa mereka akan digantung di alun-alun kampung.


Tak kuat merindukan bergaul dengan para ular --- para pengundang ular diam-diam bersepakat mencari lokasi untuk mendirikan kampung baru. Setelah hampir dua tahun mencari-cari tanah kosong akhirnya mereka menemukan lokasi di sebuah lembah yang terletak di tepi hutan tanaman obat-obatan yang sering didatangi para tabib dari seluruh negeri. Disitulah mereka perlahan-lahan membangun rumah-rumah kayu. Setelah jumlah rumah mencukupi, serentak 49 keluarga pengundang ular eksodus menuju kampung baru yang kemudian diberi nama kampung ular.

Beberapa bulan setelah kepindahan mereka berita berdirinya kampung khusus bagi para pengundang ular telah menyebar ke seluruh negeri. Akibatnya berduyun-duyunlah para pengundang ular pindah kesana. Dalam waktu beberapa tahun saja kampung itu telah menjelma menjadi sebuah kampung besar yang dipadati para pengundang ular.

Mulailah lahir aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan ular. Mulai dari atraksi ular-ular menari, balap ular, renang ular, kontes kulit indah, kontes lidah terpanjang sampai atraksi ketahanan dibelit ular. Setiap bulan purnama ribuan orang datang memenuhi kampung itu untuk menonton ular fair yang menyuguhkan segala macam hal tentang ular. Dari para pengunjung itulah penduduk kampung ular mendapatkan sesuap nasi. Karenanya mereka selalu berusaha menciptakan kreasi-kreasi baru agar para pengunjung tidak bosan.

Salah satu langkah penting yang berhasil menarik minat pengunjung adalah dibiakkannya ular berkulit warna-warni yang dilapisi sisik-sisik yang bependar di kegelapan. Ular tersebut merupakan hasil persilangan dari berbagai jenis ular aneh ditambah perlakuan-perlakukan khusus terhadap telur-telur ular—seperti direndam ramuan-ramuan racun tumbuhan yang mengandung alkaloid, saponin, oksalat, selenium & nitrat menyebabkan lahir ular jenis baru yang kemudian dikenal sebagai ular pelangi.

Popularitas ular pelangi dengan cepat menanjak mengalahkan ular-ular silangan lain berkat kecerdasan dan warna kulitnya yang sangat indah. Disamping matanya yang tajam dia juga memiliki lidah bercabang yang selalu menjilat partikel-partikel di udara untuk kemudian disentuhkan sebuah organ di langit-langit mulutnya untuk dikenali baunya. Berbekal bau partikel tersebut ular pelangi dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya walaupun terhalang benda lain. Kepala ular tersebut juga dilengkapi sejumlah sel yang peka terhadap panas yang berguna untuk melacak panas tubuh mangsa favoritnya yaitu tikus clurut dan burung nuri. Kelebihan lain adalah ular pelangi dapat mengenali perintah-perintah pemiliknya dari jarak jauh berkat sebuah tulang peka suara yang berada di kepalanya.

Ular pelangi sangat mudah dilatih untuk melakukan berbagai atraksi seperti menari di atas tali, melompat, berenang, mencari benda-benda yang tersembunyi. Berkat tulang peka suara semua atraksi itu dapat diperintahkan dari jarak ratusan meter oleh pelatihnya sehingga seolah-olah dia dapat melakukan atraksi mandiri dan mampu melayani permintaan penonton di atas panggung pertunjukan seolah-olah bisa diajak bercakap-cakap. Sifat istimewa yang lain adalah si ular jarang menggigit orang, suka tidur di pangkuan tuannya dan manja seperti kucing yang suka menggosok-gosokkan kepalanya ke kaki pemiliknya. Wajarlah bila populasi ular pelangi meningkat dengan cepat seiring semakin banyak orang yang meminatinya. Perlahan-lahan ular pelangi menyebar ke seluruh negeri karena dibeli oleh para pengunjung kampung ular.


^_^

Sebuah apel tidak akan
berubah menjadi ayam
Walaupun berdasar kesepakatan
dia boleh dianggap apel atau ayam


Beberapa bulan kemudian baru diketahui bahwa sekalipun ular pelangi tidak pernah menggigit manusia ternyata dia menebarkan sebuah penyakit yang membuat penderitanya kejang-kejang setiap malam dan kemudian satu persatu bagian tubuhnya menjadi kering dan rontok. Kelenjar ludah di rahangnya yang biasanya menghasilkan bisa ternyata telah berubah menjadi sel inang tempat berkembangnya virus-virus mutan yang akan keluar bersama cairan bisa. Virus tersebut khusus menyerang sel-sel jaringan kulit dan jaringan tulang rawan manusia.

Kasus pertama tercatat terjadi pada seorang gadis yang memelihara lebih dari selusin ular pelangi di kamarnya yang sempit. Rupanya setiap satu jam sekali ular pelangi menghembuskan cairan bisa lewat mulutnya yang penuh dengan virus --- yang masuk ke tubuh gadis itu lewat hidung, mulut, mata dan bagian kulit yang mengalami luka terbuka. Setelah terinfeksi virus si gadis sering mengalami kejang-kejang pada malam hari. Beberapa bulan kemudian virus-virus ganas itu secara bertahap menghancurkan sel-sel jaringan kulit, tulang dan tulang rawan. Mula-mula terlihat bibir, kelopak mata, pipi, hidung dan daun telinga si gadis menghitam dan perlahan-lahan merapuh untuk selanjutnya berceceran ke tanah. Selanjutnya bagian tubuh yang lain seperti tenggorokan dan tulang belakang menyusul mengalami kerontokan.

Berita yang lebih buruk adalah penyakit itu ternyata dapat menular dari manusia yang telah terjangkit ke orang-orang sekitar lewat kontak cairan tubuh. Gawatnya lagi virus tersebut tidak mati walaupun telah direbus dalam air mendidih. Akibatnya para tabib yang menggunakan jarum-jarum untuk mengobati pasien yang terjangkit penyakit yang kemudian dikenal sengan nama penyakit sawan ular pelangi tersebut --- harus membuang jarumnya dan menggantinya dengan jarum-jarum baru. Jika hal itu tidak dilakukan maka seluruh pasiennya akan tertular penyakit yang mengerikan.

Hanya dalam hitungan bulan setelah lahirnya penyakit aneh — dua pertiga penduduk kampung ular telah dijangkiti penyakit. Enam bulan kemudian penyakit telah menyebar ke kampung-kampung sekitarnya akibat adanya penduduk yang sering berkunjung ke kampung ular. Satu tahun kemudian hampir di seluruh negeri telah ditemukan pengidap sawan ular pelangi--- yang kebanyakan adalah bekas pengunjung kampung ular. Perlahan-lahan penyakit menyebar ke penduduk non pengunjung kampung ular—sebagian diantaranya karena tertular lewat jarum-jarum para tabib.

Untuk mengurangi kecepatan penyebaran wabah sawan ular pelangi --- raja memerintahkan para tabib untuk membuang jarum setelah digunakan. Barang siapa yang melanggar akan dihukum kerja paksa di tambang-tambang bawah tanah. Takut pasien akan tertular penyakit dan juga takut akan hukuman yang menanti mereka— para tabib terpaksa menggunakan jarum baru untuk setiap pasien. Buntutnya adalah biaya pengobatan naik puluhan kali lipat.

Bila sebelumnya sebuah jarum bisa digunakan lebih dari dua ratus kali sehingga beban pasien ringan—kini mereka harus membeli jarum baru setiap kali berobat. Lima tahun setelah wabah berjangkit--- biaya pengobatan di negeri itu hanya dapat dipikul segelintir penduduk yang kaya raya. Sebagian besar penduduk tidak mampu lagi datang ke tabib karena jarum-jarum tabib menjadi langka dan mahal.

Sebenarnya Raja telah menganggarkan ribuan keping uang emas untuk membiayai penelitian obat penangkal sawan ular pelangi. Sayangnya penelitian tersebut sampai bertahun-tahun kemudian belum membawa hasil yang memuaskan. Disediakan juga rumah sakit khusus untuk para penderita wabah itu dengan biaya murah. Namun masalah utama yang dihadapi rakyat bukanlah wabah itu. Melainkan biaya berobat yang tidak terjangkau lagi setelah merebaknya wabah. Setiap hari ribuan penderita penyakit dari mulai penderita malaria sampai korban patah tulang harus puas tergeletak di rumah --- karena biaya membeli jarum-jarum tabib tidak terjangkau kantong mereka.

^_^

Kemarahan dan ketidakpuasan melanda seluruh negeri. Rakyat mulai menuntut kerajaan untuk menanggung biaya pengobatan. Namun tuntutan itu ditolak raja karena jumlah uang kas negara tidak cukup untuk membiayai seluruh rakyatnya. Serangkaian unjukrasa besar yang digerakkan oleh para kepala kampung untuk menuntut biaya pengobatan tidak berhasil meluluhkan hati raja untuk membuka kas kerajaan.

Gagal menuntut biaya pengobatan dari kerajaan, muncullah gerakan baru untuk memusnahkan ular pelangi yang dituding menjadi biang kerok wabah yang mengerikan tersebut. Dimana-mana rakyat bergerak menggerebek sarang-sarang ular pelangi untuk dibasmi hingga jumlahnya dengan cepat menyusut di seluruh negeri. Namun induk-induk ular tersebut masih bercokol dengan nyaman di kampung ular. Dari kampung ular mereka menyebarkan anak-anaknya ke seluruh negeri. Setiapkali rakyat berhasil membasmi ular-ular pelangi di kampungnya, tiba-tiba muncul ular pelangi baru yang berasal dari kampung ular.

^_^

Muncul tuntutan baru untuk menutup kampung ular. Sebuah tuntutan yang ditolak mentah-mentah oleh raja karena akan membahayakan reputasinya sebagai pelindung bagi semua golongan. Bahkan raja mengerahkan ribuan pasukan pengawalnya yang secara khusus diperintahkan menembak siapa saja yang hendak mengganggu kampung ular.

“Kalian tak boleh membakar lumbung hanya untuk menangkap tikus. Jangan tutup kampung ular hanya karena ada wabah sawan ular pelangi. Mereka juga korban seperti kita. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Mereka lebih menderita dibanding kita karena wabah memusnahkan hampir seluruh keluarga mereka” kata raja dengan lantang dihadapan puluhan ribu rakyat yang berkumpul di alun-alun menuntut raja menutup kampung ular.

“Marilah kita bahu membahu mengatasi wabah yang telah menimpa seluruh negeri. Marilah kita berhenti saling menyalahkan dan bergandengan tangan untuk mengatasi masa-masa sulit bersama-sama. Jangan merasa benar sendiri. Kebenaran kita tidak selalu kebenaran buat orang lain. Marilah kita bersatu dalam perbedaaan. Jangan tambah kesengsaraan mereka dengan memusnahkan kampung halaman yang telah bertahun-tahun mereka tinggali” kata raja meneruskan petuahnya.

“Sawan ular pelangi adalah penyakit biasa yang suatu saat akan dapat diatasi oleh tabib-tabib kita. Sama sekali bukan penyakit kutukan. Berhentilah menghakimi orang lain. Karena kita bukan Tuhan yang boleh menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Biarlah Tuhan yang menilai mereka. Tugas kita adalah mencegah meluasnya sawan ular pelangi dengan cara-cara yang bermartabat” kata raja dengan lantang.

Tiba-tiba diantara kerumunan ribuan rakyat --- ada seorang tua yang gundul naik ke atas sebuah batu besar sambil mengacung-acungkan tongkatnya untuk menarik perhatian.

“Wahai teman-teman. Dengarlah kata-kataku ini. Kita hidup didunia nyata. Bukan di dunia mimpi. Sawan ular pelangi telah menghancurkan kita. Penyakit itu telah menguras energi kita. Bukan saatnya lagi kita menipu diri. Panca indera yang dianugrahkan Tuhan pada kita menunjukkan bahwa penyakit sawan itu berasal dari ular pelangi. Ular itulah si penebar bencana. Namun biang kerok sesungguhnya adalah para penduduk kampung ular. Mereka menyilangkan berjenis-jenis ular aneh dengan ramuan-ramuan racun tumbuhan untuk menghasilkan ular sesuai kesenangan mereka. Mereka bersenang-senang dan kita semua jadi korban” teriak orang gundul itu dengan sangat kerasnya sehingga ribuan orang terpana memandangnya.

“Mereka menuding virus di mulut ular pelangi sebagai penyebar malapetaka. Alih-alih merasa diri mereka bersalah, mereka bahkan menganggap ular pelangi tidak berbahaya. Yang dikambing hitamkan adalah virus di mulut ular pelangi. Kita dipaksa untuk berpayah-payah mencari obat pembunuh virus ular pelangi--- agar mereka tetap bisa bersenang-senang dengan ular pelangi. Kita dipaksa untuk memadamkan asap. Bukan memadamkan sumber api” teriak orang gundul itu yang disambut sorak sorai ribuan orang yang tiba-tiba merasa telah menemukan seseorang yang sanggup melukiskan perasaan terpendam mereka dengan kata-kata yang lugas dan jelas.

“Mereka bicara teori sedang kita dipaksa menelan kenyataan pahit. Mereka coba-coba menentang hukum-hukum alam dan memaksa kita mengikuti cara berpikir sesat mereka. Mereka memaksa kita terjun ke dalam jurang sambil membual bahwa kita adalah burung-burung yang bisa terbang”lanjutnya.

“Kita adalah manusia biasa. Bukan Tuhan yang Mahatahu. Namun Tuhan menganugerahi kita otak yang cukup cerdas untuk tahu bahwa ular pelangi menebar maut. Kita cukup waras untuk tidak perlu berdebat tentang kebenaran fakta bahwa kampung ular adalah sumber munculnya ular pelangi. Namun para kepala batu itu ngotot ingin mengaburkan kebenaran yang begitu nyata di depan kita!” teriak orang gundul yang belakangan diketahui sebagai si Ksatria Gundul Penyelamat Kampung dari Para Pengundang Ular setelah dia meneriakkan sebuah puisi.

Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Dua hal itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.


^_^

Ksatria gundul telah berhasil merebut hati puluhan ribu rakyat yang berkumpul di alun-alun kerajaan. Laksana cahaya yang menarik jiwa-jiwa gelisah yang sedang mencari-cari jalan terang --- seperti halnya laron-laron yang berduyun-duyun terjun ke dalam nyala api karena merindukan bersatu dengan cahaya.

“Telah bertahun-tahun kita diminta menunggu mereka menemukan obat. Mungkin kita disuruh menunggu bertahun-tahun lagi --- sambil menyaksikan satu persatu keluarga dan tetangga kita bergelimpangan karena tak sanggup pergi ke tabib. Gara-gara perilaku sesat mereka biaya berobat menjadi mahal. Mereka bersenang-senang diatas ribuan mayat saudara kita” teriaknya berapi-api.

“Tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk membasmi wabah sawan ular pelangi. Jika kita hancurkan sumbernya. Hanya dalam sehari --- sawan ular pelangi akan susut di seluruh negeri. Jika kita hancurkan kampung ular. Jutaan manusia di seluruh negeri akan terselamatkan” seru ksatria gundul sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kampung ular nun jauh di sana.

^_^

Puluhan ribu rakyat yang seakan-akan baru tersadarkan atas biang keladi malapetaka yang menimpa mereka--- serentak bergerak dengan penuh kemarahan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka. Tidak ada lagi yang sanggup menipu mereka. Tidak raja. Tidak pula para prajurit raja yang ketakutan melihat aura kemarahan puluhan ribu orang yang merasa baru saja menemukan kebenaran. Ribuan pasukan khusus yang diperintahkan menjaga kampung ular lari tunggang langgang melihat puluhan ribu rakyat bergerak sambil membawa obor. Tidak ada yang lebih mereka takuti daripada puluhan ribu orang yang tidak lagi takut mati.

Malam itu kampung ular tinggal kenangan. Asap mengepul dari rumah-rumah para penangkar ular pelangi. Tak satupun ular pelangi yang dibiarkan hidup. Tidak juga telurnya. Mereka benar-benar dibasmi habis sampai ke cicit-cicitnya. Sementara ratusan penduduk kampung ular tidak diperkenankan lagi tinggal di kampung itu. Tak ada lagi kampung pengundang malapetaka yang boleh berdiri di negeri itu.

^_^

Sidang rakyat yang digelar para ketua kampung menuduh raja sebagai pemimpin yang seluruh hidupnya panjang angan-angan. Mereka menyatakan muak dengan perilaku Raja yang dianggap tukang mengingkari kenyataan. Raja dipaksa turun dari singgasana kerajaan setelah divonis menyalahgunakan kekuasaan untuk melindungi segelintir orang--- dengan mengorbankan jutaan orang lainnya.. Sidang rakyat juga mengangkat Ksatria gundul sebagai raja baru bergelar Raja Gundul Sang Penakluk Sawan Ular Pelangi. Pastilah dalam setiap pertemuan sang raja tak pernah lupa meneriakkan puisi favoritnya. Penelitian tentang obat sawan ular pelangi terpaksa dihentikan--- karena setelah musnahnya ular pelangi --- wabah berangsur-angsur menghilang dari seluruh negeri

Sabtu, 29 April 2006

Kampung Pengundang Ular (2)

Kampung Para Pengundang Ular : Renaissance

Sepeninggal Ketua Kampung untuk berkelana seantero pelosok
negeri, para penduduk berkumpul untuk memilih pemimpin
baru. Seperti yang terjadi sebelumnya, ada dua kelompok kuat
yang bersaing dalam memperebutkan posisi Ketua Kampung.
Kelompok pendukung kebebasan ular untuk memasuki
kampung melawan kelompok penentangnya. Minggu-minggu
menjelang pemilihan terjadilah perang urat syaraf yang sangat
sengit.













Kelompok penentang ular membeberkan puluhan bukti-
bukti yang menunjukkan bahwa telah jatuh puluhan korban
tewas akibat keganasan ular dan mengatakan sudah saatnya
untuk mengusir ular dari rumah-rumah penduduk. Kelompok
pendukung ular dengan gigih memberi bukti keluarga-keluarga
yang hidup damai bersama ular-ular, bahkan mendapat
penghasilan tambahan dari para wisatawan luar kampung yang
gemar menonton atraksi-atraksi yang disuguhkan para ular.

Hanya satu hari menjelang pemilihan terjadi tiga kehebohan
besar yang mempengaruhi hasil pemilihan. Kehebohan pertama
adalah dibelinya seekor ular sanca yang ditemukan seorang
perempuan tua oleh pedagang kaya dari ibukota
dengan harga setara sekilo emas murni 24 karat. Kehebohan
kedua adalah digagalkannya perampokan di rumah
salah seorang terkaya di kampung ---karena si perampok
berteriak-teriak ketakutan--- akibat membuka lemari yang
disangka berisi perhiasan ternyata berisi belasan ekor cobra.

Peristiwa ketiga adalah dipujinya klub muda-mudi pengundang
ular sebagai klub muda-mudi teladan oleh seorang pembesar
negeri karena sukses memberantas hama tikus secara alami
tanpa racun kimia. Segera saja ketiga peristiwa itu menjadi
primadona kampanye para pendukung ular. Hasilnya-pun
nyata. Mereka sukses mengkanvaskan para penentang ular
dalam pemungutan suara.

^_^

“Hari ini kita berkumpul di halaman balai kampung untuk
merayakan kemenangan kaum pendukung kebebasan. Manusia
adalah makhluk cerdas. Dengan kemampuan otaknya manusia
bebas menentukan mana yang dianggap baik dan mana yang
buruk. Sesuatu akan baik bila kita anggap baik dan menjadi
buruk bila kita anggap buruk. Kita tidak butuh siapa-siapa.
Kita adalah makhluk tiada tara. Yang kita butuhkan adalah
kebebasan untuk menentukan pilihan. Kita adalah para pecinta
ular. Muda-mudi kita adalah para pecandu ular. Biarlah mereka
mengisi masa muda mereka dalam pelukan ular-ular yang
berbisa sekalipun. Mereka akan aman-aman saja sepanjang
mereka telah kita bekali dengan pengetahuan tentang ular dan
kiat menangkal bahaya bisa ular” kata Ketua Kampung baru
pada saat pidato pelantikan yang dibanjiri para pendukungnya.

“Saya tidak keberatan dengan teman-teman kita yang tidak
suka dengan ular. Namun saya harap mereka tidak
mengganggu pergaulan kita dengan ular-ular kelangenan.
Mereka boleh tidak setuju, tapi mereka tidak punya hak sama
sekali untuk mengusik kita. Bahwa anak-anak mereka juga
terancam oleh kehadiran para ular---sudah menjadi tugas
mereka untuk mengajari anak-anak mereka bermain ular
dengan aman. Ajari anakmu bermain ular. Jangan coba-coba
usir ular keluar kampung. Jangan ganggu kesenangan kami”
teriak Ketua Kampung yang baru menutup pidato
pelantikannya yang disambut tepuk tangan meriah para
pendukungnya.

^_^

Tak sampai satu bulan setelah pelantikan Ketua Kampung yang
baru—korban-korban kembali berjatuhan. Kali ini kebanyakan
adalah muda mudi yang coba-coba bermain dengan ular.
Disangkanya dengan sedikit pengetahuan tentang ular mereka
akan aman bermain dengan hewan berbisa tersebut. Pada
kenyataannya belasan anak muda menjadi korban. Sebagian
mati, sebagian yang lain terkapar di rumah sakit .
Namun setiapkali diadakan pemungutan suara untuk
menentukan nasib para ular, kelompok penentang ular selalu
kalah. Para pendukung ular memiliki kelompok-kelompok
kesenian ular yang rajin keliling kampung untuk menghibur
penduduk dengan gratis sehingga mereka mendapat simpati
yang luas.

^_^

Sepuluh tahun berlalu, keganasan ular semakin menjadi-jadi
namun kegilaan sebagian penduduk terhadap ular juga semakin
menjadi-jadi. Korban keganasan ular sudah dianggap biasa.
Sebagian penduduk sudah menganggapnya sebagai resiko biasa
yang dihadapi semua orang dalam kehidupan. Berita remaja
terkapar karena dipatuk ular sudah tidak menarik lagi. Para
penentang yang teriak-teriak meminta ular diusir keluar
kampung dianggap orang kuno yang tidak tahu bahwa
kebebasan adalah pangkal kemajuan. Kemarahan para
penentang sudah meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Namun
mereka harus gigit jari karena selalu kalah populer dibanding
para pendukung kebebasan ular yang sangat canggih dalam
meraih simpati penduduk.

^_^

Menginjak tahun kesebelas tiba-tiba munculah seorang tua
yang rambutnya panjang dan jenggotnya juga panjang hampir
menyentuh tanah. Puisi yang diteriakkannyalah yang membuat
penduduk kampung mengerti bahwa Ketua Kampung Lama
mereka telah kembali. Rupanya selama sepuluh tahun
berkelana dia tidak pernah mencukur rambut dan jenggot
hingga menjadi sangat panjang.

Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.


Puisi itu diteriakkan tiap satu jam sekali oleh Ketua Kampung
Lama di halaman balai kampung. Malamnya para penentang
ular berduyun-duyun mendatangi Kepala Kampung Lama
untuk mengadukan merajalelanya ular sepeninggal dirinya.

Tergerak oleh nasib kampungnya yang dicengkeram dunia
ular---justru pada saat dirinya mengajarkan bahaya ular ke
seluruh penjuru negeri. Ditambah kesadaran bahwa tindakan
nyata jauh lebih berarti dari sekedar kata-kata--- Kepala
Kampung Lama bersedia memimpin kampanye untuk
menentang ular. Malam itu juga disuruhnya semua penentang
ular membuat pentungan dari batang bambu. Diperintahkan
juga mereka membuat obor-obor dan mengumpulkan garam.
Tidak lupa mereka diminta mempersiapkan panah-panah api.

Pagi harinya Ketua Kampung Lama yang telah mencukur
gundul rambutnya ---mengumpulkan seluruh penduduk
penentang ular yang juga telah mencukur gundul rambut
mereka--- di alun-alun kampung. Mereka membawa semua
perlengkapan yang telah dipersiapkan malam harinya.
Jumlah penentang ternyata jauh lebih besar dibanding para
pendukung ular.

“Hari ini kita berkumpul ditempat ini sebagai kaum pecinta
kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran yang tidak akan
berubah menjadi kesesatan setelah seribu tahun sekalipun. Hari
ini adalah saatnya para ksatria gagah berani pembawa risalah
kebenaran untuk menghancurkan kesesatan” Ketua Kampung
Lama memulai pidatonya.

Sejenak kemudian terdengar gemuruh suara para penentang
ular berteriak-teriak mendukung pidatonya pemimpinnya.

Ketua Kampung Lama meneruskan kata-katanya :
“Api adalah api. Api adalah panas. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang api adalah dingin dan dilakukan selama seribu
tahun. Api tidak akan berubah menjadi dingin. Ular berbisa itu
berbahaya bila berada dirumah kita. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang bahwa ular-ular yang berkeliaran di kamar tidur,
di dapur, di lumbung padi tidak berbahaya – bisa ular tetap
berbahaya. Biar seribu tahun mereka bilang ular tidak
berbahaya bagi anak-anak kita --- ular tetap akan berbahaya
bagi anak-anak kita. Kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran
harus diperjuangkan dan bukan diputuskan lewat pemungutan suara”

Mendadak Ketua Kampung Lama berhenti berpidato dan menangis
terisak-isak teringat anaknya yang tewas 10 tahun silam. Setelah
terdiam beberapa lama tiba-tiba dia berdiri diatas meja dan berteriak
dengan lantang :

“Kebebasan sejati adalah kebebasan dari perbudakan
nafsu. Kebebasan sejati adalah membebaskan diri dari
keinginan untuk selalu bersenang-senang. Kebebasan adalah
keberanian untuk menerima kenyataan bahwa ular-ular berbisa
akan membahayakan masa depan anak cucu kita. Kebebasan
adalah keberanian untuk melihat masa depan tanpa terhalang
kesenangan sesaat. Mereka telah dibutakan hatinya dari
kenyataan. Mereka berpancaindera normal namun
sesungguhnya telah buta dan tuli tidak mampu melihat
kenyataan ratusan korban keganasan ular. Nafsu telah
membuat hati mereka gelap pekat kehilangan cahaya. Hati
mereka telah mengeras seperti batu”.

Kemudian Ketua Kampung Lama memberi isyarat penentang
ular untuk bergerak.

“Hari ini nasib anak-anak kita dipertaruhkan. Mari kita
hancurkan sarang-sarang ular di dalam kampung. Kita usir
semua ular dari sekeliling kita. Kita bunuh semua ular yang
tidak mau pergi. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Kita hancurkan siapa saja yang menghalangi misi kita”

Ratusan penentang ular segera bergerak. Sarang-sarang ular
dibongkar. Lubang-lubang yang penuh ular diasapi dengan
bantuan obor. Garam-garam ditaburkan. Akibatnya ular-ular
ketakutan dan berlomba-lomba meninggalkan kampung.
Belasan ular yang mencoba melawan tewas digebuk dengan
batang-batang bambu. Ular-ular yang bersembunyi di rumah
para pendukung ular juga dipaksa keluar dan diusir
meninggalkan kawasan perumahan penduduk. Para pendukung
ular tidak mampu berbuat apa-apa. Jumlah mereka
yang sedikit ditambah panah-panah yang dibawa para
penentang ular telah menciutkan nyali mereka. Sementara
penduduk biasa yang cenderung ikut pada kelompok yang kuat
--- telah berpaling dari mereka. Kini mereka berbalik menjadi
para penentang ular.

^_^

Sebulan setelah peristiwa itu kampung praktis telah bersih dari
ular. Mungkin ada satu dua orang yang secara sembunyi-
sembunyi mengundang para ular. Namun mereka tidak akan
berani terang-terangan. Apalagi mengajak anak-anak muda
untuk bermain-main dengan ular. Tak terdengar lagi remaja
yang mati digigit ular. Bapak-bapak kembali dengan tenang
menyiangi kebunnya dari alang-alang. Ibu-ibu tak perlu
khawatir digigit ular saat mengambil padi dari lumbung. Para
orang tua tidak perlu terus-menerus mengawasi anaknya agar
tidak bermain–main dengan ular. Ketentraman dan kedamaian
menyelimuti kampung yang telah kembali menemukan jati diri
sejatinya itu. Kepala Kampung Lama-pun mendapat julukan
baru, yaitu Ksatria Gundul Pembebas Kampung dari Para
Pengundang Ular.

jl. makmur bandung


Minggu, 23 April 2006

Kampung Pengundang Ular (1)



Kampung Para Pengundang Ular :. Dark age

Alkisah di sebuah kampung setelah melalui perdebatan seru
akhirnya kepala kampung memutuskan ular-ular












diperbolehkan memasuki kampung dengan alasan mereka
juga punya hak untuk hidup di tanah-tanah yang berada di
lingkungan pemukiman penduduk. Mereka bebas untuk
hidup di dalam kampung dan memakan tikus-tikus yang
bersembunyi di dalam lumbung-lumbung padi para petani.

Alhasil argumen para penentang bahwa ular-ular itu sangat
membahayakan bagi orang-orang kampung, terutama bagi
anak-anak dibawah umur yang belum mengerti begitu
berbahaya-nya bisa ular--- ditolak--- karena dianggap
mengada-ada. Lebih baik setiap keluarga mendidik anak-
anak mereka agar berhati-hati bila bermain di tempat-tempat
yang sering disambangi ular daripada mengekang kebebasan
para ular.


“Bukan saatnya lagi main larang-larangan. Sekarang bukan
jaman kuda gigit besi. Setiap orang bebas melakukan apa saja
sepanjang tidak merugikan orang lain. Bukan masanya lagi
kampung mengurusi urusan pribadi penduduknya. Anda
boleh menyukai ular atau membencinya. Namun anda harus
bersedia menerima kehadiran ular disekitar kita. Bentengi
keluarga anda dengan pengetahuan tentang ular sehingga
tidak akan menjadi korban gigitan ular".

"Omong kosong kalau ular itu berbahaya. Lebih berbahaya orang-
orang yang suka mencuri beras dari lumbung petani. Lebih
berbahaya hama-hama yang menyerang tanaman padi. Lebih
berbahaya orang yang sengaja memberi pinjaman berbunga
tinggi pada petani untuk mengambil alih kepemilikan sawah.
Bereskan hal-hal tersebut terlebih dahulu sebelum teriak-teriak
menentang kehadiran ular”. Begitulah ketua kampung berorasi
pada saat acara pengguntingan pita yang manandai hadirnya
para ular.

^_^

Pada awalnya penduduk kampung sangat senang dengan
hadirnya ular-ular di rumah mereka. Tikus-tikus di lumbung
padi habis disantap binatang melata tersebut. Demikian juga
dapur-dapur penduduk terbebas dari gangguan tikus dimalam
hari. Tidur mereka juga lebih nyenyak karena tak ada lagi
bunyi berisik para tikus bekejar-kejaran di plafon rumah.

Para ular membuat tikus stress karena dikejar-kejar sampai
ke liang-liang rahasia di saluran pembuangan air sehingga
mereka terpaksa menenangkan diri dengan mengungsi ke
hutan-hutan. Saking semangatnya para ular, burung-burung
yang suka menyantap gabah yang sedang dijemur petani-pun
jauh berkurang karena dijadikan semacam menu pendamping
tikus.

Sampai suatu hari seorang bayi tewas digigit ular weling saat
ditinggal ibunya menyabit rumput di kebun. Kontan
terjadilah perdebatan seru antar pendukung dan penentang
kehadiran ular. Kali ini para pendukung ular kembali
memenangkan pemungutan suara di Balai Kampung setelah
sukses menyalahkan si Ibu yang meletakkan bayi -nya secara
sembarangan di bawah pohon kelapa.


“Seharusnya bayi diletakkan di dalam rumah bukan ditaruh-
taruh di halaman. Bukan hanya ular yang membahayakan.
Bisa saja si bayi dimakan anjing atau kucing bahkan bisa
mati karena kejatuhan kelapa” begitulah kata-kata pamungkas
yang mampu meyakinkan para tokoh kampung untuk kembali
mendukung keberadaan ular.

Bulan-bulan berikutnya korban-korban kembali berjatuhan.
Ada anak yang digigit ular saat memanjat pohon mangga.
Beberapa ibu-ibu juga digigit ular saat sedang
membersihkan kebun dari ilalang. Yang paling tragis adalah
peristiwa seorang bayi yang ditelan bulat-bulat seekor ular
sanca raksasa saat ditinggal ibunya mencuci di sungai.


Untuk peristiwa terakhir ini si Ibu disalahkan karena
meninggalkan bayi di tepi sungai yang dianggap berbahaya.
Si bayi bisa tewas karena hanyut. Lagipula mencuci di sungai
adalah kegiatan yang sudah dinyatakan terlarang sejak beberapa
tahun silam. Pendeknya pendukung kebebasan ular kembali
meraih kemenangan. Bahkan si ibu yang malang dihukum
denda karena melakukan kelalaian yang menyebabkan
kematian anaknya.

^_^

Namun semuanya berubah 180 derajad setelah anak tunggal
kepala kampung tewas digigit ular saat menendang-nendang
kepala seekor cobra. Selama berhari-hari kepala kampung
termenung menyesali peristiwa yang menimpanya.
Bagaimana mungkin anak yang setiap hari diberitahu untuk
tidak bermain-main dengan ular telah melanggar
larangannya. Hanya karena si anak penasaran setiap hari
melihat di halaman rumahnya berkeliaran seekor kobra yang
kepalanya bisa berdiri dan mengembang. Larangan yang
diberikannya, kalah oleh rasa ingin tahu yang menguasai
anaknya.

Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.


Seminggu setelah kematian anaknya --- setiap hari ketua
kampung berkelana dari rumah ke rumah. Berdiri di depan
pintu sambil meneriakkan kata-kata tersebut. Sepuluh tahun
lamanya si ketua berkelana dari kampung ke kampung, dari
kota ke kota untuk meneriakkan puisinya. Tak banyak orang
yang tahu maksud puisi tersebut sampai berita tewasnya anak
si ketua tersebar luas ke seluruh negeri. Kini orang menjadi
sadar bahwa si ketua ingin menebus kesalahannya dengan
mengajarkan pengalaman pahit yang menimpa dirinya.
Penyair dari kampung pengundang ular adalah julukan yang
diberikan oleh orang-orang di seluruh penjuru negeri.
(jl makmur 14 bandung)