Tampilkan postingan dengan label cerita pendek; cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek; cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2011

Fabel Kancil Mencuri Timun

Alkisah Sang Kancil kedatangan serombongan gajah yang bertamu sambil membawa anak mereka yang sakit. Semua tabib di hutan telah menyerah, tak mampu mengobati penyakitnya. Badan Si Ajah (Anak gaJah) demam, kepalanya pusing, perut mual dan tidak mau makan, mirip dengan penyakit meriang biasa tetapi tidak kunjung sembuh.




Setelah Sang Kancil memeriksa dengan seksama, tahulah dia bahwa si Ajah telah terserang typhus. Belum ada obat typhus yang dimiliki apotek hutan raya, sehingga hanya ada harapan kecil bagi Ajah untuk sembuh.

Namun sebenarnya ada peluang untuk sembuh, yaitu mendapatkan antibiotik yang telah ditemukan bangsa manusia bertahun-tahun silam. Ada keluarga petani yang menetap di pinggir hutan. Mungkin mereka memiliki persediaan antibiotik itu.

Tapi siapakah yang berani meminta antibiotik pada mereka?

Seperti yang diduga Sang Kancil, tak satupun gajah yang berani pergi ke rumah petani untuk meminta antibiotik. Termasuk Sang Gajah Ketua. Si Gajah raksasa paling besar diantara rombongan gajah itu gentar mendengar kata “manusia”. 

Dalam bayangannya, bila dia muncul di depan Pak Tani yang gagah perkasa itu, dia masih beruntung bila hanya ditangkap dan dijadikan kuli pengangkut barang. Kalo lagi sial, hidupnya bakalan berakhir di moncong senapan berburu yang sangat dahsyat itu.

Tidak pilihan lain bagi Sang Kancil selaku pemimpin binatang-binatang di hutan raya selain datang sendiri ke rumah petani untuk meminta antibiotik. Maka pada pagi hari yang cerah, dengan diiringi lambaian tangan rakyatnya, Sang Kancil melangkahkan kakinya meninggalkan hutan raya menuju tanah pertanian di pinggir hutan dengan hanya membawa sedikit bekal makanan. Maklum dia sedang diet karena beberapa bulan ini tubuhnya terasa makin tambun saja.

Dengan bantuan peta yang dipinjam dari perpustakaan hutan raya, Sang Raja Hutan tahu jalan paling pendek menuju tanah pertanian. Hanya butuh waktu satu minggu sebelum Sang Kancil menginjakkan kakinya di tepi hutan, padahal bila tanpa bantuan peta bisa mencapai 1 bulan untuk sampai di pemukiman manusia. Wajarlah karena Sang Kancil adalah seorang raja yang suka melakukan inovasi agar segala sesuatunya semakin baik.   Samar-samar dilihatnya kebun tanaman luas membentang di hadapannya.

^_^

Setelah melewati kebun kiwi, kebun alamanda, kebun bunga matahari, kebun rapunzel dan kebun lidah buaya, sampailah Sang Kancil di kebun timun yang berbuah lebat. Dipandanginya ratusan timun yang menjuntai dari batang-batang tanaman.

Timun-timun yang panjang dan gemuk, dengan warna hijau segar yang menerbitkan selera. Dilihatnya ada sesosok tubuh yang berdiri membelakangi dirinya. Disangkanya dia adalah Pak Tani.

Sang Kancil menyapa sesosok tubuh itu. Tapi dia diam saja. Sang Kancil mencoba menyapa dengan suara lebih keras, kemudian lebih keras lagi lalu sampai setengah berteriak. Tapi sosok itu masih diam saja. Sang Kancil mendekat dan mencoba menyentuh bahu sosok itu. Tapi celaka. Tangannya menempel pada sosok itu.

Saat tangan yang satunya mencoba membantu melepaskan, justru ikut menempel di sosok itu. Tahulah Sang Kancil bahwa dirinya telah terjebak pada orang-orangan sawah yang telah dilumuri getah nangka yang sangat lengket.

Dia pernah membaca tentang bahaya jebakan orang-orangan sawah itu di salah satu buku di perpustakaan hutan raya. Menurut buku itu seharusnya dirinya tak boleh dekat-dekat sosok mirip manusia itu, karena bisa terperangkap. Tapi terlambat, Kancil baru menyadari setelah terjebak.

^_^

Sore hari saat menengok kebunnya, Pak Tani yang penasaran karena beberapa minggu terakhir ini timunnya selalu dicuri -- merasa girang gembirang. Seekor binatang asing telah terjebak pada orang-orangan berlumur getah yang dipasangnya.

“Pastilah dia adalah pencuri sialan itu” pikirnya. Sia-sia sajalah Sang Kancil mencoba membantah kata-kata Pak Tani. “Tak ada ampun bagi pencuri” tandas Pak Tani sambil menyeret Sang Kancil ke rumahnya.

Anjing Gembala milik Pak Tani menyambangi Sang Kancil yang meringkuk di kandang ayam di halaman belakang rumah Pak Tani. “Sungguh malang kau pengelana pencuri!” katanya. Tiba-tiba Sang Kancil teringat buku tentang anjing yang ditulis kakeknya.

Di buku Monograf tentang Anjing tersebut diterangkan bahwa anjing memiliki kemampuan melacak berdasar bau-bauan. Sebuah keahlian yang berguna untuk melacak pencuri. Bisa bermanfaat untuk membuktikan bahwa Kancil tidak bersalah.

Sang Kancil menceritakan bahwa dirinya tidak mencuri. Dimintanya Anjing Gembala memeriksa apakah timun tidak dicuri lagi setelah dirinya ditangkap. Bila timun masih dicuri, berarti bukan dirinya yang mencuri.

Untunglah Anjing Gembala bersedia memenuhi permintaan Sang Kancil setelah dipuji-puji bahwa Si Anjing Gembala adalah binatang paling ahli untuk menjadi detektif yang melacak jejak pencuri. Sang Anjing yang dari sononya memang memiliki kemampuan melacak itu merasa tersanjung atas pujian Sang Kancil dan bertekad untuk membuktikan kemampuannya.

Maka dengan senang hati Anjing Gembala menghitung timun pada sore hari dan menghitung ulang pada pagi harinya. Dan benarlah kata Sang Kancil, bahwa ada pencuri yang lain yang telah mengambil timun di malam hari.

Saat diberitahu hal itu oleh Anjing Gembala, Pak Tani menjadi marah. Bagaimana mungkin Sang Kancil yang telah dikurungnya masih mampu mencuri timun?. Setelah berdebat seru dengan Sang Kancil dan Anjing Gembala tentang siapakah yang telah mencuri timun, akhirnya Pak Tani mau mengikuti taktik melacak pencuri yang diajarkan Sang Kancil. Tentu saja si Anjing Gembala girang bukan kepalang,dia punya kesempatan emas untuk membuktikan kehandalan dirinya dalam melacak pencuri.

Sang Kancil mengajari Anjing Gembala teknik melacak pencuri sesuai yang dia baca di Buku Detektif Hutan yang menjelaskan cara-cara menemukan pencuri dengan cepat.

Buku yang ditulis oleh seekor anjing hutan senior yang piawai melacak segala macam pencuri itu telah dibaca berkali-kali oleh Sang Kancil sejak masih kecil. Sang Kancil juga telah berkali-kali mempraktekkan teknik dari buku itu untuk memecahkan kasus-kasus barang hilang di hutan raya.

Pertama, Sang Kancil meminta daftar semua binatang peliharaan yang dimiliki petani. Ternyata ada banyak sekali binatang peliharaan di tanah pertanian itu. Ada lima puluh ekor ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran. Ada enam puluh delapan ekor itik yang digembala oleh seorang pembantu.Terdapat dua belas ekor sapi perah untuk diambil susunya dan tujuh ekor kerbau yang dipergunakan untuk bekerja.

Ada juga enam ekor kuda untuk menarik kereta. Kemudian ada sepuluh ekor kelinci yang dikurung di kebun belakang dengan dikelilingi pagar tembok. Kelinci itu dibeli Pak Tani dua tahun lalu.

Langkah kedua dimintanya Anjing Gembala melacak bau-bauan dari bulu-bulu atau rambut yang tercecer di kebun timun, dan dicocokkan dengan bau-bauan di kandang masing-masing hewan tadi. Sampai akhirnya ketemulah bau kandang yang paling mendekati bau yang ada di kebun timun.

Langkah ketiga adalah Sang Kancil meminta Anjing Gembala berjaga di luar kandang binatang yang menjadi tersangka utama. Sampai akhirnya si Anjing Gembala membuntuti sekelompok binatang yang muncul dari lubang-lubang bawah tanah yang dibuat di luar kadangnya dan berhasil menangkap basah saat mereka sedang melahap timun.

^_^

Pak Tani sangat senang dan berterimakasih pada Sang Kancil dan Anjing Gembala atas keberhasilan menangkap pencuri. Dikurungnya binatang-binatang pencuri timun yang akan segera diberi pelajaran olehnya. Namun Sang Kancil mencegah petani memberi hukuman pada binatang tersebut.

Diceritakannya bahwa wajar binatang yang memiliki kemampuan untuk membuat lubang dalam tanah tersebut -- untuk keluar mencari makan. Itu karena Pak Tani memberi jatah makanan yang kurang.

Rupanya binatang itu adalah para kelinci -- yang disangka oleh Pak Tani masih berjumlah 10 ekor. Padahal jumlah kelinci telah bertambah sejak pertamakali dibeli Pak Tani. Sekarang jumlahnya telah lebih dari dua puluh ekor. Mereka cepat beranak pinak sehingga jumlah makanan yang dijatah pak Tani tak lagi mencukupi. Akibatnya beberapa ekor kelinci badung nekad keluar kandang untuk mencari tambahan makanan.

Sadarlah Pak Tani bahwa sejak dua tahun lalu dia hanya memberi jatah satu keranjang sayur dan buah-buahan yang cukup untuk 10 ekor kelinci. Sementara jumlah kelinci telah jauh bertambah. Jadi mereka kelaparan dan kemudian ada beberapa ekor yang tidak tahan lapar keluar dari pagar untuk mencari makanan.

Menyesalah dirinya atas kelalaian itu. Kemudian dibebaskanlah kelinci-kelinci yang dikurungnya. Mengikuti jejak Sang Kancil yan juga telah dilepaskannya dari kurungan.

Kini tibalah saatnya Sang Kancil mengungkapkan tujuan dirinya bertandang ke tempat Pak Tani. Diceritakannya bahwa dirinya membutuhkan antibiotik typhus untuk diberikan pada anak gajah yang sakit.

Untunglah Pak Tani menyanggupi memberikan antibiotik itu. Dia punya kenalan seorang dokter muda yang kebetulan sedang menginap dirumahnya setelah bertugas mengobati penduduk di kampung-kampung terpencil yang tengah terjangkit wabah typhus. Dia membawa persediaan antibiotik yang cukup untuk mengobati anak gajah hingga sembuh.

Maka pada pagi hari yang cerah, Sang Kancil melangkahkan kaki kembali ke hutan sambil menenteng anibiotik buat anak gajah. Tak disangka keterjebakan dirinya pada orang-orangan sawah telah membantunya mendapatkan antibiotik dari petani.

Sementara Pak Tani juga merasa beruntung dapat menolong anak gajah. Dia juga senang karena timun-timunnya tak lagi dicuri setelah dia menambah jatah makanan buat kelinci-kelincinya. Anjing Gembala juga girang bahwa kemampuan melacaknya telah berhasil memecahkan problem pencurian timun milik Pak Tani (undil- 2011)



gambar diambil dari: freeclipartnow.com

Senin, 20 September 2010

Common Sense

Suatu ketika Shinichi Kudo bertemu Kirana yang sedang bingung untuk mengetahui volume tangki penampung air yang baru saja dipinjamnya dari Departemen lain. Tangki setinggi delapan meteran tersebut adalah tangki lama yang sudah tidak terpakai, sehingga tidak dilengkapi dokumen-dokumen pendukung yang berisi informasi tentang dimensi, volume, material tangki maupun spesifikasi teknis lainnya. Jadilah Kirana pusing mencari cara mengetahui volume tangki.

“Kalo mo ngukur volume tangki gampang. Gak perlu repot-repot menghapal rumus yang bikin pusing. Volume itu sebenarnya luas alas kali tinggi. Jika barang berbentuk silinder, tentu saja luas alas adalah luas lingkaran alas silinder dan tinggi direpresentasikan oleh tinggi silinder. Dirimu cukup suruh anak buahmu mengukur diameter alas tangki lalu dihitung luasnya, kemudian dikalikan tinggi tangki. Langsung ketemu volume tangki deh!”

Kirana manggut-manggut tanda setuju. Ternyata dia tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui volume tangki. Gak perlu nyari-nyari dokumen tangki jaman baheula yang belum tentu ada. Semua dapat diatasi dengan mempergunakan pengetahuan sederhana yang sebenarnya dapat dengan mudah dikuasai semua orang.

^_^

Kali lain Shinichi Kudo kedatangan seorang tamu yang membicarakan tentang pengiriman tabung gas. Saat tamu tersebut bertanya tentang prosedur keselamatan penanganan tabung gas, Shinichi diam. Tidak tahu harus menjawab apa, karena dirinya tidak pernah memperhatikan bagaimana tabung gas diterima di perusahaannya. Untunglah waktu itu ada Samijo yang kebetulan sering memesan tabung gas.

Samijo mengatakan bahwa prosedur penanganan tabung gas mengikuti prosedur keselamatan standar. Tabung gas di dalam mobil diberdirikan dengan posisi tegak lurus dan diikat dengan rantai sehingga tidak akan terguling. Tabung gas juga dilengkapi dengan valve pengaman sehingga tidak akan bocor.

Sebelum diterima dari vendor, dipastikan terlebih dahulu bahwa kondisi fisik tabung tidak cacat, sambungan-sambungan, gasket, & regulator terpasang dengan benar dan berfungsi dengan baik. Metode penurunan tabung gas dari mobil-pun dilakukan secara aman, dengan mempergunakan alat bantu dan dilakukan oleh minimal dua orang untuk menghindari jatuh atau tergulingnya tabung gas saat diturunkan.

Samijo dapat menjelaskan dengan runtut dan jelas sehingga tamu itu puas dan dapat mengerti bahwa perusahaan sangat memperhatikan prosedur keselamatan dalam penanganan tabung gas. Samijo ingat dan mampu menjelaskan peristiwa sederhana yang sebenarnya juga sering dilihat Shinichi. Hal itu membuat Shinichi diam termangu, apa yang salah pada dirinya?

^_^

Common sense adalah pengetahuan sederhana yang dipahami oleh masyarakat umum. Common sense bukanlah merupakan pengetahuan khusus dan luar biasa yang hanya bisa dikuasai segelintir orang. Kebanyakan orang dapat menguasai common sense dengan menggunakan akal sehat. Bahkan common sense bisa diketahui dengan sendirinya oleh seseorang seiring pengalaman hidupnya.



Contoh common sense adalah perkalian 5 x 5 = 25, 10 x 10 = 100 dan 25 x 25 = 625, yang dapat dijawab oleh banyak orang dengan nyaris tanpa perlu berpikir. Pengetahuan itu telah meresap selama duduk di bangku sekolah dasar dan siap dipergunakan bila diperlukan. Common sense berupa penguasaan perkalian tersebut bukan sesuatu yang luar biasa atau perlu kejeniusan. Cukup dengan kemampuan otak yang biasa-biasa saja dan memori ala kadarnya seseorang dapat menguasai perkalian-perkalian sederhana.

Dalam banyak kasus, common sense sangat berguna untuk memecahkan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Seperti masalah volume tangki yang dihadapi Kirana dan masalah penanganan tabung gas yang ditanyakan oleh tamu Shinichi Kudo. Sebenarnya baik Kirana maupun Shinichi Kudo dapat memecahkan permasalahan mereka dengan mempergunakan common sense yang telah mereka ketahui. Hanya saja mereka berdua tidak terlatih dalam penggunaan common sense untuk memecahkan masalah.

Perlu latihan agar dapat mempergunakan common sense. Manusia perlu berlatih untuk mempergunakan informasi yang tersedia dan merangkainya menjadi informasi yang sistematis & berguna. Dalam kasus Kirana, dia dapat memperoleh informasi ukuran-ukuran fisik tangki, seperti tinggi dan diameter. Selanjutnya dia mempergunakan common sense yang diketahuinya sewaktu SD tentang metode mengukur volume tabung. Dari penggabungan informasi dan common sense, akan diperoleh informasi tentang volume air yang dapat ditampung oleh tangki.

Kirana perlu berlatih mempergunakan informasi yang tersedia pada tangki dan menghubungkan dengan khasanah pengetahuan dan pengalaman yang telah dia miliki.

Dalam kasus Shinichi Kudo, tentu dia pernah mendengar atau membaca bagaimana cara penanganan tabung gas yang sering ditayangkan di media massa. Shinichi hanya perlu menceritakan ulang pengetahuan tersebut dengan runtut dan sistematis untuk menjawab pertanyaan tamunya tentang penanganan tabung gas. Tidak perlu menghapal prosedur atau petunjuk teknis karena semua itu hanyalah common sense yang bisa diketahui semua orang. Apalagi Shinichi sering melihat tabung gas diturunkan dari mobil pengangkutnya.

Shinichi dapat melatih common sense dengan mencoba menceritakan kembali sesuatu yang dilihatnya dalam kalimat-kalimat yang runtut dan sistematis. Berusaha menceritakan kembali sebuah peristiwa step demi step secara berurutan dan logis akan memaksa Shinichi untuk melihat lebih seksama. Dengan melihat lebih seksama dia akan bisa menceritakan dengan lebih sistematis. Hal itu tidak memerlukan kemampuan istimewa, hanya perlu sedikit berpikir untuk mengelaborasi apa yang baru saja dilihatnya.

Pengamatan secara seksama bukan berarti harus menghapal langkah demi langkah secara mendetail, yang diperlukan adalah mengetahui langkah-langkah utama dan alasan dibalik langkah tersebut. Dengan mengetahui hal-hal yang penting maka kita akan dapat dengan mudah mengelaborasi keseluruhan langkah dengan penjelasan yang sistematis dan logis.

Pendeknya common sense adalah sebuah tool yang sangat powerful untuk memecahkan permasalahan sehari-hari. Kita hanya perlu mengamati dengan lebih seksama dan berlatih mengelaborasi hasil pengamatan itu dengan sistematis (Undil, 26 Juni 2010. Inspired by kuliah immuno engineering Prof. Santoso. MD, 25/06/10).


Sabtu, 21 Agustus 2010

Karir Bukan hanya soal Kemampuan tapi juga Kesempatan

Dia yang tak maju-maju
Bukan berarti tidak mampu
Bisa jadi tak diberi kesempatan
Hingga terpendamlah kecemerlangan

Dia yang biasa-biasa saja
bukan berarti tak sehebat sang bintang
karena bukan hanya kemampuan
tapi juga kesempatan yang menentukan

^_^

Dahana Danudara sudah 10 tahun bekerja di pabrik bakmi sebagai staf manager. Dia telah bekerja sejak pabrik masih mempergunakan sapi sebagai penggerak alat, hingga saat ini yang segalanya telah serba otomatis.

Bosnya juga telah membuka 8 pabrik baru sejak Dahana ikut perusahaan itu. Pangsa pasarnya sangat luas karena pembelinya adalah para penjual mi ayam dan warung bakmi rebus yang tersebar di desa-desa. Begitu ada warung baru, berarti ada pembeli baru yang akan membeli produknya. Tidak heran dari tahun ke tahun semakin besar kuantitas produksi bakmi.

Entah kenapa Dahana tidak pernah dipercaya Bosnya untuk memegang satu pabrik baru. Bos memilih merekrut manajer-manajer baru dari luar untuk memimpin pabrik-pabrik barunya. Padahal dari sisi kemampuan, Dahana mampu mengelola pabrik pertama sehingga berjalan dengan baik.

Hampir setiap hari si Bos sibuk meeting dan mengurus 8 pabrik-pabrik lain sehingga segala sesuatu tentang pabrik pertama disiapkan oleh Dahana dengan dibantu sekretaris si Bos. Biasanya Dahana mengatakan apa yang harus disiapkan dan si sekretaris akan menuliskannya dalam dokumen produksi, dokumen pembelian, surat-surat tagihan dan dokumen lain yang siap ditandatangani bos. Umumnya surat-surat itu langsung ditandatangani Bos tanpa diperiksa lagi. Kemudian bagian pembelian, gudang, operasional, penjualan dan penagihan akan menindaklanjuti.

Sekalipun mampu mengelola pabrik, Dahana tetap tak kunjung pintar membuat dokumen, dan surat sendiri ataupun memimpin meeting karyawan. Biasanya Dahana membicarakan permasalahan pabrik secara informal dengan pekerja yang terkait. Jarang sekali dia melakukan meeting yang melibatkan banyak karyawan. Meeting selalu membuatnya gugup. Mungkin itulah yang membuat dirinya kurang diperhitungkan.

Setiapkali ada pertemuan tahunan yang melibatkan seluruh pimpinan dari ke-9 pabrik, Dahana hanya duduk di belakang mendengar para manajer berdiskusi tentang perkembangan pabrik dan peluang-peluang yang perlu ditindaklanjuti untuk memajukan pabrik. Si Bos tak henti-hentinya memuji para manajer pabrik yang disebutnya walaupun rata-rata masih muda tapi mampu membawa kemajuan bagi perusahaan.

Dia mengatakan bahwa dirinya tidak salah pilih mengangkat anak-anak muda menjadi pimpinan pabrik. Biasanya usulan-usulan dari para manajer akan disaring dan dipilih yang dianggap paling layak oleh bos. Sebenarnya banyak juga usulan yang ada di benak Dahana, tapi enggan diungkapkan dalam meeting karena posisinya bukanlah pimpinan.

Diam-diam Dahana juga kagum pada anak-anak muda yang memimpin pabrik itu. Mereka sanggup menggerakkan produksi tepat waktu dan merekrut para pelanggan baru sehingga omzet dari tahun ke tahun semakin besar. Padahal mereka rata-rata baru beberapa tahun bergabung dengan perusahaan dan miskin pengalaman. Namun mereka mampu belajar dengan cepat sehingga mampu mengimbangi perkembangan perusahaan.

^_^

Dahana betah kerja di pabrik bakmi, sampai akhirnya orang tua Dahana memanggilnya pulang ke kampung. Pabrik tahu di kampung tidak ada yang mengurus setelah orang kepercayaannya memutuskan pensiun karena telah terlalu tua untuk mengurusi tetek bengek pabrik.

Orang itu menyarankan agar orangtua Dahana memanggil anaknya pulang untuk memimpin Pabrik Tahu. Toh di sana karir Dahana juga biasa-biasa saja. Siapa tahu di kampungnya Dahana bisa lebih berkembang. Dilihatnya anak muda itu telah memiliki pengalaman luas di sebuah pabrik bakmi ternama. Tentu pengalaman itu bisa diterapkan untuk memajukan pabrik tahu.

Dahana sempat bimbang untuk keluar dari pabrik bakmi. Pabrik itulah yang telah mengajarkannya ketrampilan bisnis dari sejak dia lulus sarjana yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis hingga menjadi Dahana saat ini yang tahu banyak soal bisnis bakmi, dari mulai trik pembelian bahan baku hingga seluk-beluk penagihan hutang para pembeli. Semuanya telah hapal di luar kepala. Namun setelah orangtua Dahana membanding-bandingkan kemungkinan kecil Dahana berkembang di pabrik bakmi dengan peluang besar mengembangkan diri di pabrik tahu, akhirnya Dahana memutuskan untuk keluar dan pulang kampung.

Mulanya Si Bos kaget dengan keinginan Dahana. Dikiranya anak buah yang dianggapnya biasa-biasa saja ini ingin mendapat posisi yang lebih tinggi. Maka ditawarkannya posisi sebagai wakil pimpinan pabrik pertama. Satu posisi yang belum pernah ada sebelumnya, dan nampaknya dibuat khusus untuk Dahana.

Si Bos emang ragu dengan kemampuan Dahana, mengingat anak itu tidak pengalaman menjadi orang pertama di pabrik. Selama ini walaupun Dahana mengelola pabrik pertama, posisinya adalah orang kedua setelah dirinya. Dahana tidak pernah mengambil keputusan selain hal-hal yang rutin seperti membeli bahan baku atau menagih pada pelanggan. Hal-hal yang penting seperti ganti mesin atau menambah karyawan baru selalu atas persetujuan dirinya. Apalagi Dahana kurang persuasif & tidak pandai bicara, sehingga si Bos tidak begitu tahu kemampuan Dahana.

^_^

Keraguan si Bos tampaknya salah besar. Baru tiga tahun di tangan Dahana, Pabrik tahu milik orangtuanya maju pesat. Dahana telah membeli 8 mesin baru. Kapasitas produksi telah naik lima kali lipat. Pemilihan bahan baku, efisiensi produksi dan distribusi tahu yang cepat telah membuat tahu Dahana unggul di pasaran. Dahana bahkan telah menarik minat para pembeli baru dengan bekerjasama dengan armada tahu goreng aneka rasa yang ditempatkan di titik-titik keramaian. Tahu original hingga tahu rasa keju plus mayonaise telah menggelembungkan pasar tahu Dahana hingga lima kali lipat.

Dahana juga membuat tiga pabrik tempe tradisional yang dibuatnya di kampungnya dan dua kampung tetangganya. Tempe bungkus daun itu dibuat dengan bantuan mesin, namun pada pembungkusannya melibatkan tenaga manusia, yaitu ibu-ibu di sekitar pabrik. Tempe ini dipasarkan ke kota dimana banyak konsumen yang ingin menikmati tempe tradisional. Omzet tempe Dahana bahkan telah melampaui hasil penjualan pabrik tahu. Tahun depan Dahana telah berencana mengekspor tempe ke Malaysia dan Arab Saudi dimana banyak orang Indonesia yang bekerja dan tinggal di sana.

^_^

Suatu ketika Dahana bertemu dengan bekas bosnya dalam sebuah penghargaan yang diberikan Pak Bupati kepada pengusaha yang mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan masyarakat setempat. Dahana termasuk yang mendapat penghargaan karena pabrik tempenya mempekerjakan tak kurang dari 300 ibu rumah tangga dari kampung-kampung sekitar pabriknya. Karena tak biasa berpidato, tentu saja pidatonya tidak lancar saat dia didaulat untuk maju ke depan berbagi pengalaman. Walaupun begitu tepuk tangan meriah hadirin membahana tatkala Dahana usai berpidato. Mereka sangat respek akan kepedulian Dahana pada masyarakat sekitar. Seusai pidato mantan Bosnya menghampiri tempat duduk Dahana.

Dahana terkejut melihat kedatangan mantan Bosnya yang didampingi beberapa manajer pabrik yang memandanginya dengan pandangan penuh kekaguman. Bos menjabat tangan Dahana sambil tersenyum lalu berkata:

“Setelah sekian puluh tahun aku memimpin perusahaan, baru saat ini aku menyadari bahwa seseorang bisa maju atau tidak bukan semata-mata tergantung kemampuan, tetapi juga kesempatan. Jujur saja, selama ini aku tak pernah memberimu kesempatan untuk memegang tanggung jawab yang lebih besar karena aku ragu kemampuanmu. Namun kamu membuktikan bahwa dirimu mampu membangun perusahaan yang jauh lebih besar dari perusahaanku hanya dalam waktu 3 tahun. Aku kira dirimu masih sama seperti dulu, tidak pandai berpidato dan mungkin juga kurang pintar memimpin rapat dan tidak memiliki kemampuan menulis surat ataupun administrasi. Namun kamu bisa membuktikan bahwa semua kelemahanmu itu tidak menghambatmu untuk maju”

Dahana tersenyum mendengar kata-kata bekas bosnya. Kemudian dia berkata bahwa kemampuan dan ketrampilannya masih sama dengan dulu. Dirinya juga mengerjakan hal yang serupa dengan saat bekerja di pabrik bakmi. Hanya saja karena tanggung jawabnya lebih besar Dahana juga mengerjakan hal-hal yang lain selain rutinitas. Dahana memilih mesin baru, menjajaki pembeli baru, dan membuat beragam produk baru. Semua itu dilakukan sesuai tuntutan tanggung jawab. Bahkan bila dia masih di pabrik bakmi dan diberi kepercayaan menjadi pimpinan pabrik, dia akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan di pabrik tahu.

Mantan Bos tertegun sejenak. Dan diam-diam semakin yakin bahwa seseorang yang prestasinya biasa-biasa saja belum tentu kemampuannya dibawah orang-orang yang terlihat cemerlang. Bisa jadi orang itu hanya tidak mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Hal itu terbukti pada Dahana.
Sebenarnyalah sejak dulu anak itu telah memiliki segalanya untuk menjadi manajer yang hebat, dia hanya tidak diberi kesempatan (undil – 2010)
tags: cerpen, cerita pendek, karir, kesempatan, kemampuan, kompetensi, cerita pendek manajemen,

Jumat, 23 Januari 2009

Beginilah Cara Menjelaskan Perang di Gaza Kepada Anak Kecil

Daya tarik utama tulisan Nury Vittachi yang dimuat di the jakarta post ini adalah keberhasilan penggunaan sebuah parodi untuk menggambarkan sesuatu. Nuryana berhasil memparodikan cara berpikir “aneh” yang dipergunakan untuk melegitimasi pendudukan tanah-tanah milik pribumi -- dengan sebuah cerita yang lucu, sederhana namun sangat jitu dan tepat sasaran.

Nury Vittachi adalah seorang penulis kelahiran Srilanka tahun 1958. Nuryana menjadi jurnalis kenamaan dengan menggunakan nama Cina: Lai See dan sebagai pendongeng cerita anak-anak dengan nama Sam Jam. Kini Nuryana tinggal di Hong Kong dan buku-bukunya telah diterbitkan di Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Dia juga mengajar menulis dan screenwriting (penulisan naskah untuk sinema) di Hong Kong.


Sebuah karikatur di media massa Arab


^_^

Beginilah Cara Menjelaskan Perang di Gaza pada Anak Kecil

Nury Vittachi, Bangkok | Minggu, 01/18/2009 12:44 | Opini The Jakarta Post


Nury Vittachi
foto:
birlinn.co.uk


Pada suatu ketika, ada sebuah keluarga yang disebut Pal. Mereka tinggal di sebuah rumah yang panas dan berdebu, tetapi mereka suka, dan telah tinggal di sana selama lebih dari 2000 tahun. Kemudian satu hari, mereka kedatangan beberapa pengunjung.

"Kami adalah Keluarga Izzy," kata kepala keluarga yang baru datang.

"Kami akan pindah ke sini"

"Apa?" tanya Keluarga Pal. "Kalian tidak boleh pindah ke sini"

"Ya, kami boleh," kata Izzy. "Orang-orang itu berkata kami boleh pindah ke sini" kata si pendatang baru sambil menunjuk ke sejumlah orang bersenjata lengkap yang mendampingi mereka. Nama mereka adalah Usa dan Uk.

"Hai," kata yang besar. "Saya di sini untuk memberitahu kalian bahwa Izzy dan keluarganya telah menderita trauma menyedihkan. Mereka membutuhkan rumah baru"

"Saya setuju," ujar Pal. "Tapi ini adalah rumah kami, dan ukurannya sangat kecil. Bagaimana jika kalian saja yang memberikan sebagian ruangan di rumah kalian untuk mereka? "

"Mereka ingin tinggal di sini, karena nenek moyang mereka tinggal di sini," kata Usa.

"Tetapi itu tidak adil," kata Keluarga Pal keberatan.

Terjadilah jalan buntu. Masyarakat luas dipanggil untuk mengadili. Keluarga Izzy mengatakan bahwa masalah dapat disimpulkan dalam sebuah pertanyaan sederhana:

"Apakah keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup? Ya atau Tidak?"

Kemudian si raksasa Usa sangat menyetujuinya:

"Ya, kami menyatakan bahwa keluarga Izzy pasti memiliki hak untuk hidup"

"Tunggu dulu" kata salah seorang anggota Keluarga Pal.

"Persoalannya bukan Keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup. Namun apakah mereka memiliki hak untuk hidup di rumah kami"

Usa tampak sangat terkejut.

"Keterlaluan! Kalian berkata Keluarga Izzy tidak memiliki hak untuk hidup? Kalau begitu otomatis kalian adalah Kelompok Teroris! Tukang Genocide!. Sekarang kalian dalam masalah besar!"

Anggota keluarga Pal tidak tahu apa yang bisa dilakukan. Mereka menyadari bahwa mereka perlu teman yang kuat juga. Mereka membawa perkara ke pengadilan. Ketua hakim adalah seseorang bernama Yuen, terkadang dilafalkan U.N.

Hakim Yuen berbicara ke banyak anggota masyarakat, termasuk Ms Asia, Perancis, dan sebagainya. Mereka semua sepakat apa yang dialami Keluarga Pal sangat tidak adil. Hakim Yuen mengeluarkan beberapa keputusan untuk membuat situasi lebih adil. Tetapi Keluarga Izzy mengabaikan keputusan itu, dan mereka didukung sepenuhnya oleh Usa.

Keluarga Izzy semakin besar, semakin kuat, semakin kokoh dan semakin kaya. Sementara Keluarga Pal semakin miskin dan semakin miskin. Tahun-tahun penuh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tidak dapat dielakkan. Salah satu anggota Keluarga Pal adalah seorang lelaki bernama Hamas. Dia tidak tahan lagi. Dia tidak mau tunduk dan mulai melawan.

Dalam pembalasan terhadap lelaki itu, Keluarga Izzy melakukan serentetan tindak kekerasan secara besar-besaran terhadap Keluarga Pal. "Tolong berhenti," ujar Keluarga Pal, setelah 900 anggota keluarga mereka terbunuh.

Hakim Yuen dan sebagian besar anggota masyarakat internasional juga menyerukan Izzy menghentikan serangan.

Tapi anggota yang paling kuat dari masyarakat internasional, yaitu Usa, berkata kepada Keluarga Izzy agar terus melanjutkan pembantaian. Usa berkata bahwa segala kejadian mengerikan yang terjadi pada Keluarga Pal adalah kesalahan mereka sendiri. "Keluarga Izzy memiliki hak untuk hidup," kata Usa. "Dan dia mempunyai hak untuk membela diri."

Kemudian mereka semua hidup dalam kondisi menyedihkan secara berkepanjangan.

^_^

Sebuah cerita sedih bukan? Hanya ada satu cara agar cerita ini memiliki akhir yang berbeda.

Pemerintahan baru U.S perlu mengingat kata-kata Abraham Lincoln, yang telah dilupakan oleh pemerintahan yang lama: "Satu-satunya cara untuk membinasakan musuhmu: Buatlah dia menjadi teman Anda" .

Nury Vittachi
Penulis adalah wartawan dan kolumnis.
diterjemahkan oleh undil dari the jakarta post

catatan:
USA: United States of America
UK: United Kingdom (Inggris)
U.N: United Nation (PBB)


How to Explain The War in Gaza to Small Children
Nury Vittachi , Bangkok | Sun, 01/18/2009 12:44 PM | Opinion

source: the jakarta post

Once upon a time, there was a family called Pal. They lived in a property which was hot and dusty, but they liked it, and had lived there for more than 2,000 years. Then one day, they had some visitors. “We are the Izzy family,” said the head of the new arrivals. “And we’re moving in.”

“What?” said the Pal family. “You can’t do that.” “Yes, we can,” said Izzy. “They said we could.” The newcomers pointed to some heavily armed “minders” who were accompanying them. Their names were Usa and Uk. “Hi,” said the biggest one. “I am here to tell you that Izzy and his family have suffered terrible trauma. They need a new home.”

“I sympathize,” said Pal. “But this is our home, and it’s very small. Why don’t you give them space in your homes?”

“They want to live here, because their ancestors lived here,” said Usa.

“But that’s not fair,” the Pal family objected.

There was an impasse. The wider community was called to adjudicate. The Izzy family said the issue could be boiled down to one simple question: “The Izzy family has a right to exist, yes or no?” The giant Usa agreed enthusiastically: “Yes, we declare that the Izzy family definitely has the right to exist.”

“Hang on,” said a member of the Pal family. “The issue is not whether the Izzy family has a right to exist. It’s whether they have the right to exist on our property.”

Usa looked deeply shocked. “Outrageous! You’re saying the Izzy family do not have the right to exist, so that automatically makes you a group of genocidal terrorists. Now you’re in trouble.”

The Pal family members were at a loss about what to do. They realized that they needed a powerful friend, too. They took the matter to court. The chief judge was a man named Yuen, sometimes spelt UN. Yuen talked to many members of the community, including Ms Asia, France and so on. They all agreed the situation was fundamentally unfair. Judge Yuen passed several edicts to make the situation fairer. But the Izzy family ignored these edicts, and were fully supported by Usa.

The Izzy family got bigger and stronger and tougher and richer. The Pal family got poorer and poorer. Years of unfairness and abuse resulted in the inevitable. One desperate, tormented member of the Pal family, a man named Hamas, couldn’t take it any more. He went off the rails and started to fight back. In retaliation, the Izzy family unleashed a massive wave of violence. “Please stop,” said the Pal family, after 900 members of their family had been killed.

Judge Yuen and most members of the international community called for the invasion to stop.

But the most powerful member, Usa, told the Izzy family to continue the slaughter, explaining that the horrible injuries to the Pal family were all their own fault. “The Izzy family has a right to exist,” Usa said. “And it has the right to defend itself.” And they all lived miserably ever after.

It’s a sad story, isn’t it? There’s just one way this tale can have a different ending.

The new US administration needs to remember the words of Abraham Lincoln, forgotten by the old US administration: “There’s only way to destroy your enemy: Make him your friend.”

The writer is columnist and journalist.



Rabu, 24 Desember 2008

Mengapa Hari-hari Terasa Lebih Panjang Shinichi?

Akhir pekan Shinichi Kudo ikutan oubound di Sentul, Bogor. Acara dimulai dari perjalanan panjang dari Bandung ke Sentul di Jumat malam hingga diakhiri perjalanan ke Curug Luhur di Minggu pagi menjelang pulang. Sabtu Minggu diisi dengan rangkaian acara yang padat merayap yang dirancang rapi oleh penyelenggara outbound. Rangkaian games kreatif, flying fox dan permainan highrope lain telah memadati dua hari yang sangat mengasyikkan itu. Lelah, tapi terasa sangat bermakna untuk mengisi akhir pekan.



Ada satu hal menarik yang dirasakan Shinichi Kudo selama outbound. Yaitu bahwa hari-hari terasa lebih panjang daripada hari-hari biasa. Hari Sabtu dan Minggu terasa berjalan lebih lambat daripada hari Sabtu Minggu biasa. Akhir pekan yang biasanya terasa begitu cepat berlalu, tidak terjadi pada akhir pekan di arena outbound. Dua hari itu terasa begitu panjang. Begitu terasa menit demi menit yang berlalu bersama laju sang waktu. Waktu terasa lebih lambat. Hari-hari terasa lebih panjang. Buktinya banyak sekali hal yang berhasil dikerjakan hanya dalam dua hari itu.

Mangapa hari-hari terasa lebih panjang?

Shinichi Kudo menduga karena dua hari di Sentul itu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang telah dirancang rapi sehingga menit-demi menit benar-benar dimanfaatkan untuk mendapatkan raihan sebanyak-banyaknya. Setiap menit dirancang untuk memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi para peserta outbound. Banyak hal-hal baru yang diajarkan lewat permainan selama outbound. Banyak kegembiraan yang dimunculkan. Banyak keceriaan yang dibagikan. Banyak permainan mengasyikkan yang diluncurkan. Dan semuanya terancang dengan padat dan rapi selama dua hari itu.

Dengan pemanfaatan waktu yang maksimal -- maka hari-hari terasa lebih panjang. Tidak ada kamus waktu dihabiskan untuk tidur-tiduran atau melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tidak ada waktu yang dibiarkan berlalu dengan berlama-lama di kamar mandi atau di depan cermin. Setiap menitnya benar-benar terasa sebagai satuan waktu yang dibayar dengan sesuatu yang bermakna. Itulah yang membuat hari-hari terasa lebih panjang.

Penyebab lain hari terasa lebih panjang adalah hal-hal baru yang diperoleh selama outbound. Hal-hal yang berbeda dengan peristiwa yang biasa dialami Shinichi Kudo di akhir minggu. Hal-hal yang bukan sekedar kegiatan rutin yang terus diulang-ulang dari minggu ke minggu.


Di Sentul, Shinichi Kudo mengalami hal-hal yang sama sekali baru. Hal-hal menarik yang membuat perangkat perekam di dalam otaknya melonjak-lonjak kegirangan karena mendapatkan bahan-bahan baru untuk memperkaya khazanah pengetahuan yang tersusun rapi di dalam otak. Pengetahuan yang bermanfaat untuk memperkaya wawasan dan mempertajam pikiran.

Penggunaan waktu yang efisien, adanya pengetahuan baru dan variasi dari kegiatan rutin adalah tersangka utama penyebab hari-hari terasa lebih panjang bagi Shinichi. Perasaan serupa juga dialami Shinichi kala dirinya piknik keluar kota ataupun ikut seminar ke Jakarta di hari kerja. Hari-hari terasa lebih panjang dibanding hari-hari biasa (Undil – Des 08).